Apa yang dipahami bila hidup itu adalah pola fikir Logika dan Perasaan ?
Bila ada konteks dalam hidupmu yang selalu merasa kekurangan , dan hati kamu ingin sesuatu yang lebih agar tidak kekurangan dari berbagak aspek , so apa yang ingin kalian ingin kan dalam hidup ini ?
Jika kita membahas tentang cara berfikir untuk mendapatkan apa yang kita mau, kenapa tidak mencoba berkreativitas agar dapat memuaskan hasrat mu ? Apa yang kamu ketahui tentang kebutuhan dirimu sendiri ?
Ungkapan ini akan selalu menjadi pertanyaan bagi diri mu sendiri , karena ketika kita mempunyai rasa ingin tahu yang mendalam dengan suatu hal pasti seseorang kita seorang individu yang ingin memenuhi hasrat ingin tahu ,
Example :
A adalah seorang petualang yang suka menjelajah suatu benua ke benua lain nya ,ndia gemar membuat sesuatu hal yang baru dalam diri nya , maka ketika menjadi seorang petualang dia harus memenuhi rasa keinginan tahu nya tentang
Apa yang dia lihat . Tidak mungkin seorang petualang menjadi seorang programer , kecuali dia adalah seorang albert einstein muda yang membuat suatu percobaan dengan iQ yang di atas 160 di atas rata-rata ,
Wednesday, 30 July 2014
Asal mula asumsi seseorang
Idealnya ilmu pengathuan itu pasti bebas dari yang namanya asumsi seseorang , ini dikarenakan ilmu pengetahuam sebenarnya berasal dari kritik terhadap sesuatu yang abstrak atau filsafat yang idealismenya selalu terjebak dalam asumsi , ilmu pengetahuan ingin membuang asumsi - asumsi yang tidak berdasarkan dan menggantikannya dengan sebuah pemikiran yang murni dari dalam otak kita , berasal dari pengamatam kita yang jelas tanpa terjebak dengan teori - teori lalu yang bisa salah semua pernyataan harus di buktikan secara empiris ,
Dalam hal ini sayang nya sabgat tidak mungkin , ilmu pengetahuan akan selalu menyimpan asumsi didalamnya , dalam senuah percobaan tidak dapat terperangkap dalam sebuah kondisi dimana dalam kondisi tersebuh terdapat dalam aspek sosiologi,histori dan juga kebudayaan ,
Misalnya :
Dalam sebuah percobaan beberapa orang mencoba mengetahui apa yang mampu mempengaruhi titik didih sebuah benda , maka seseorang meletakan air disebuah teko besi dan merebus benda itu dengan api , kemudian meletakan air pada sebuah teko besi dan dan merebus benda itu sengan api , kemudian berturut - turut mereka memakai teko perunggu ,teko emas , teko perak , ini untuk , menentukan apakah wadah mempengaruhi titik didih air ,
salah seorang filsuf lewat sambil mengorek - ngorek hidupnya , "eh kenapa kalian merebus benda itu ? " seorang tersebut kemudian menjawab " eh ,mkami sedang membuat percobaan dengan merebus benda itu ? " sang filsuf kemudan bertanya , " tidak kah kalian memikirkan tentang warna juga mempengaruhi bagaimana kalau kalian coba wadah dengan berbagai warna , maka mereka yang merebus teko itu oun tertawa ," mana mungkin warna mempengaruhi titik didih , ini menunjukan bahwa sebelum , melakukan sebuah ekperimen seorang ilmuan harus memiliki asumsi , asumsi itu berbeda macamnya bahwa , beda jenis wadah akan mempengaruhi titik didih api , bukan warna , mereka juga tidak memilih penelitian dalam berbagai eksperimen .
Ini artinya , sebelum eksperimen dilakukan , mereka harus sudah memiliki asumsi sehingga akan mempengaruhi suatu eksperimennya ,
Dari cerita di atas , asumsi dapat diartikan sebagai dugaan yang di terima sebagai dasar atau landasan karena di anggap benar , sedangkan pengertian dari asumsi melalui filsafat ialah ilmu yang merupakan suatu anggapan atau celetukan dasar tentang realitas suatu obyek yang menjadi suatu pusat penelahaan atau pondasi bagi penyusunan ilmiah yang diperlukan dalam pengembangan ilmun, tanpa asumsi anggapan orang atau pihak tentang realitas bisa berbeda , tergantung dari sudut pandang dan kacamata apa seseorang melihatnya .
Dalam hal ini sayang nya sabgat tidak mungkin , ilmu pengetahuan akan selalu menyimpan asumsi didalamnya , dalam senuah percobaan tidak dapat terperangkap dalam sebuah kondisi dimana dalam kondisi tersebuh terdapat dalam aspek sosiologi,histori dan juga kebudayaan ,
Misalnya :
Dalam sebuah percobaan beberapa orang mencoba mengetahui apa yang mampu mempengaruhi titik didih sebuah benda , maka seseorang meletakan air disebuah teko besi dan merebus benda itu dengan api , kemudian meletakan air pada sebuah teko besi dan dan merebus benda itu sengan api , kemudian berturut - turut mereka memakai teko perunggu ,teko emas , teko perak , ini untuk , menentukan apakah wadah mempengaruhi titik didih air ,
salah seorang filsuf lewat sambil mengorek - ngorek hidupnya , "eh kenapa kalian merebus benda itu ? " seorang tersebut kemudian menjawab " eh ,mkami sedang membuat percobaan dengan merebus benda itu ? " sang filsuf kemudan bertanya , " tidak kah kalian memikirkan tentang warna juga mempengaruhi bagaimana kalau kalian coba wadah dengan berbagai warna , maka mereka yang merebus teko itu oun tertawa ," mana mungkin warna mempengaruhi titik didih , ini menunjukan bahwa sebelum , melakukan sebuah ekperimen seorang ilmuan harus memiliki asumsi , asumsi itu berbeda macamnya bahwa , beda jenis wadah akan mempengaruhi titik didih api , bukan warna , mereka juga tidak memilih penelitian dalam berbagai eksperimen .
Ini artinya , sebelum eksperimen dilakukan , mereka harus sudah memiliki asumsi sehingga akan mempengaruhi suatu eksperimennya ,
Dari cerita di atas , asumsi dapat diartikan sebagai dugaan yang di terima sebagai dasar atau landasan karena di anggap benar , sedangkan pengertian dari asumsi melalui filsafat ialah ilmu yang merupakan suatu anggapan atau celetukan dasar tentang realitas suatu obyek yang menjadi suatu pusat penelahaan atau pondasi bagi penyusunan ilmiah yang diperlukan dalam pengembangan ilmun, tanpa asumsi anggapan orang atau pihak tentang realitas bisa berbeda , tergantung dari sudut pandang dan kacamata apa seseorang melihatnya .
Subscribe to:
Comments (Atom)