Sunday, 29 June 2014

A.  DEFINISI PSIKOLOGI KOMUNIKASI

·         menurut George A. Miller, psikologi komunikasi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mengendalikan peristiwa mental dan perilaku dalam komuikasi

·         psikologi komunikasi adalah ilmu yang mempelajari komunikasi dari aspek psikologi. (jalaludin rahmat)

·         psikologi komunikasi adalah ilmu yang menelitik kesadaran dan pengalaman manusia.

B.   5 TEORI PSIKOLOGI KOMUNIKASI

1.     Teori Kultivasi

Teori kultivasi melihat bagaimana televisi membentuk pandangan kita dari apa yang diinginkan dunia sosial.

Teori kultivasi didasarkan pada beberapa asumsi -asumsi mengenai televisi dan cara kita melihatnya. Asumsi-asumsi ini tidak mendahului program penelitian tetapi telah berkembang sebagai teori dalam penelitian ini tradisi mengakumulasi lebih banyak dan lebih banyak bukti tentang bagaimana kita menonton televisi dan efek televisi pada kehidupan sehari-hari dan pandangan dunia. Asumsi-asumsi ini summa-rized oleh Gerbner (1990).

Televisi telah jelas berubah pada berbagai tingkatan. Tapi perubahan ini dangkal. Nilai-nilai yang mendasarinya, demografi, ideologi, dan hubungan kekuasaan telah terwujud hanya sedikit fluktuasi dengan hampir tidak ada yang penyimpangan signifikan instalasi dari waktu ke waktu, meskipun sebenarnya perubahan-perubahan sosial yang telah terjadi. Teori kultivasi juga telah mengembangkan ide-ide tentang bagaimana kita melihat televisi. Secara khusus, mereka berpendapat bahwa "pemirsa menonton oleh jam" (Gerbner, 1990, 54). Teori kultivasi bersikukuh dengan berpendapat bahwa budaya bukan rangsangan atau model respons sederhana, model perubahan satu arah, atau model penguatan (Morgan cocok Signorielli, 1990).

Teori kultivasi paling sering diuji melalui perbandingan isi televisi dan kepercayaan orang-orang tentang sifat dari dunia. Pada awal dan mendefinisikan pekerjaan Gerbner dan rekan-rekannya, kedua potongan teka-teki yang disebut sebagai analisis isi dan analisis indikator budaya. Langkah pertama untuk menguji teori budidaya adalah penentuan konten televisi melalui conten analisis. Kedua, pengujian proses kultivasi melibatkan individu menilai keyakinan tentang dunia seperti apa dunia. Kemudian analisis kultivasi diuji hipotesis yang terdiri dari perbandingan antara keterangan penonton televisi dan pemirsa televisi berat. Jika pemirsa televisi berat 80 cenderung memberikan jawaban yang lebih sesuai dengan tanggapan televisi, peneliti akan memiliki dukungan untuk hipotesis kultivasi. Beberapa yang paling awal dari kritik teori kultivasi dicatat efek yang relatif kecil yang ditemukan untuk proses kultivasi dan fakta bahwa efek itu lebih jauh berkurang ketika mengendalikan jumlah variabel demografis yang relevan (misalnya, umur, jenis kelamin, pendidikan). Potter (1991a, 1993) berpendapat bahwa hubungan antara menonton televisi dan pandangan dunia mungkin bukan linear dan simetris yang diduga oleh satu teori kultivasi.

Dalam buku teori komunikasi Katherine Miller bab 15 mengenai teori media dan masyarakat menjelaskan mengenai beberapa teori yang berkaitan dengan sistem penyampaian informasi oleh media terhadap opini public dan perubahan masyarakat. Mulai dari teori agenda setting, teori spiral of silence dan teori mengenai kultivasi. Selain menjelaskan mengenai proses pengembangan tiap-tiap teori serta pembagian proses teori, dalam buku ini juga membahas kritikan dan sejumlah masukan mengenai pengembangan teori yang disesuaikan dengan pengembangan komunikasi.

Teori kultivasi merupakan teori yang menggambarkan mengenai cara perkembangan perubahan kebiasaan masyarakat yang disebabkan oleh media massa. Dalam teori kultivasi lebih menitikberatkan pada pengaruh siaran televisi. Teori kultivasi ini di awal perkembangannya lebih memfokuskan pengkajiannya pada studi televisi dan audiens, khusus memfokuskan pada tema-tema kekerasan di televisi. Akan tetapi dalam perkembangannya teori tersebut bisa digunakan untuk kajian di luar tema kekerasan. Teori ini menitik beratkan pada asumsi yang akan terjadi pada masyarakat dari penayangan siaran televisi yang ditonton.

Salah satu contohnya adalah pada siaran televisi yang menayangkan kekerasan dan ditonton oleh anak-anak. Jika proses kultivasi yang disampaikan oleh media massa terutama televisi telah mengakibatkan perubahan sikap dalam diri anak-anak. Mereka juga seakan-akan tidak tahu lagi apa yang semestinya dilakukan oleh anak-anak, sehingga ini mengakibatkan anak-anak seakan telah bersikap dewasa atau dengan kata lain merasa dirinya bukan lagi di usia yang sebenarnya. Siaran televisi ini akan berakibat baik bila pesan yang disampaikan adalah pesan-pesan yang baik dan bermoral. Sebaliknya, akan menjadi bahaya besar ketika televisi menyiarkan program-program yang bobrok dan amoral, seperti kekerasan dan kriminalitas.

Dalam teori kultivasi yang dijadikan penelitian adalah dampak yang disebabkan oleh televisi terhadap penerimaan oleh masyarakat. Pengembangan siaran televisi yang mempengaruhi manusia untuk menjadikannya sebagai suatu kebutuhan dalam mendapatkan informasi terkadang juga telah mengakibatkan terpengaruhnya cara berfikir audien mengenai sesuatu hal yang kemudian diterapkan dalam kehidupan keseharinnya. (Sumber: http://rizhacommunication.blogspot.com/2010/03/teori-media-dan-masyarakat-katherine.html)

2.     Teori Spiral of Silence

Teori spiral of silence, upaya untuk menjelaskan bagaimana komunikasi interpersonal yang dimediasi dan bekerja sama untuk membungkam suara-suara buku tebal dalam perdebatan publik dan mempengaruhi pasang surut dan arus opini publik.

Teori spiral keheningan mengusulkan bahwa orang akan enggan untuk mengungkapkan pendapat jika mereka menjadi percaya saat ini bertentangan dengan pendapat mereka sendiri atau jika mereka percaya bahwa pendapat sudah berubah ke arah yang bertentangan dengan pendapat mereka sendiri. Noelle-Neumann percaya bahwa efek ini akan sangat tegas sehubungan dengan prediksi dinamis opini publik tentang suatu masalah dan akan tergantung pada penilaian masa depan pendapat ketika saat ini dan masa yang akan datang penilaian tidak setuju. Noelle-Neumann melihat teori spiral keheningan sebagai mencakup semua teori opini publik yang menghubungkan proses psikologi social yang berbeda, interper sonal komunikasi, dan media massa.

Noelle-Neumann juga melihat spiral keheningan sebagai sebuah proses dinamis. Noelle-Neumann percaya bahwa keengganan untuk berbicara pada suatu isu tertentu akan lebih meningkatkan penggambaran media dan pribadi menilai bahwa pendapat yang berlaku terhadap beberapa pendapat. Sebagai gambaran dan penilaian ini menjadi lebih dimodifikasi, beberapa individu akan cacat dengan pendapat yang tampaknya berlaku atau setidaknya akan gagal untuk merekrut orang baru yang kurang dominan. Sebagai Akibatnya, opini yang sebenarnya prediksi akan mengikuti pendapat dan spiral ke bawah.

Noelle-Neumann tidak mengusulkan bahwa spiral keheningan adalah proses menyeluruh,, namun la menunjuk tiga peringatan yang membatasi penerapan teori untuk spesifik isu dan orang-orang. Pertama, teori akan terbuka hanya ketika masalah yang dihadapi adalah masalah moral baik dan buruk, bukan faktual terbitan yang dapat berdebat dan diselesaikan melalui interaksi rasional dan logis. Kedua, mencatat bahwa keengganan untuk berbicara keluar akan kurang diucapkan dalam berpendidikan tinggi dan lebih kaya bagian dari populasi. Ketiga, untuk setiap topik yang keras pendukung inti akan selalu bersedia untuk berbicara dalam suatu masalah, menganggap persepsi yang kurang dari pendapat yang berlaku dalam arah yang berlawanan.

Teori kebisuan spiral adalah model relatif mudah pembentukan opini publik dan perubahan. Namun, dalam beberapa hal yang cukup rumit, jauh melibatkan fenomena di berbagai tingkat analisis (yaitu psikologis, interpersonal, dan media) dan berpendapat rumit selama-waktu perubahan. Beberapa variabel tambahan telah diidentifikasi sebagai faktor-faktor yang memprediksi kesediaan untuk berbicara di hadapan sebaliknya sentimen publik. Ini termasuk kekuatan dan kepastian pendapat, kepentingan kaki dan tangan politik, dan individu tingkat efektivitas diri.

Dalam buku teori komunikasi Katherine Miller bab 15 mengenai teori media dan masyarakat menjelaskan mengenai beberapa teori yang berkaitan dengan sistem penyampaian informasi oleh media terhadap opini public dan perubahan masyarakat. Mulai dari teori agenda setting, teori spiral of silence dan teori mengenai kultivasi. Selain menjelaskan mengenai proses pengembangan tiap-tiap teori serta pembagian proses teori, dalam buku ini juga membahas kritikan dan sejumlah masukan mengenai pengembangan teori yang disesuaikan dengan pengembangan komunikasi.

Teori spiral keheningan menjelaskan menegenai seseorang akan mempunyai kemungkinan untuk tidak akan mengungkapkan pendapatnya saat dia merasa bahwa apa yang terjadi pendapat yang berkembang telah tidak sesuai lagi dengan apa yang dinggap benar oleh orang tersebut. Hal ini menyengkut dengan opini publik mengenai suatu hal tertentu.

Dalam buku ini mencontohkan dalam hal pemilu di German yang diukuti dua partai besar Sosial Demokrat dan Cristian Demokrat, saat awal dilakukan poling keduanya memiliki harapan yang sama dari masyarakat untuk menang. Namun prediksi yang dilakukan dari voting dua bulan sebelum pemilu berbeda dengan apa yang terjadi saat pemilu. Dalam teori ini menunjukkan jika opini public tidak hanya diperlihatkan lewat apa yang dikatakan, karena terkadang yang dilakukan tersebut hanya dilakukan karena takut terosilasi dan juga ketika mereka percaya pendapat yang berlaku bertentangan dengan pendapat mereka sendiri ini bergerak ke arah yang jauh dari pendapat mereka, orang-orang tidak akan mau berbicara. Teori spiral silence ini sangat berkaitan dengan berbagai tingkat analisis, antara lain, psikologi, interpersonal dan media.

(Sumber: http://rizhacommunication.blogspot.com/2010/03/teori-media-dan-masyarakat-katherine.html)

 

3.     Teori Komunikasi Media dan Masyarakat: Teori Agenda Setting

Teori ini mengambarkan mengenai bagaimana media massa mengatur dan mempengaruhi masyarakat dalam menentukan informasi. Media massa dapat membuat suatu agenda informasi yang nantinya akan dianggap penting oleh masyarakat. Begitu juga sebaliknya pemberitaan yang dianggap tidak penting oleh media akan menjadi tidak penting juga dalam masyarakat. Dalam agenda setting opini tentang suatu topik tertentu media massa dapat mempengaruhi oponi publik serta cara pandang masyarakat terhadap suatu hal. Salah satunya dapat dicontohkan, pemberitaan media massa mengenai pengambilan atau klaim dari Negara Malaysia terhadap beberapa kebudayaan Indonesia yang akhirnya menyebabkan suatu opini public yang negatif terhadap Negara Malayasia yang dianggap sebagai pencuri kepemilikan orang lain. Contoh lainnya saat media massa memberitakan suatu keburukan dari suatu perusahaan yang dianggap telah merugikan masyarakat, maka saat itu pula tanggapan masyarakat terhadap perusahaan tersebut akan menjadi buruk.

Teori ini banyak digunakan dalam mengakampanyekan calon dalam suatu pemilihan, baik itu pemilihan gubernur maupun presiden. Pemberitaan mengenai baik dan buruknya seorang calon akan mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap calon yang akan diplihnya. (Sumber: http://rizhacommunication.blogspot.com/2010/03/teori-media-dan-masyarakat-katherine.html)

4.     Teori Peluru atau Jarum Hipodermik

Teori Peluru ini merupakan konsep awal efek komunikasi massa yang oleh para pakar komunikasi tahun 1970-an dinamakan pula Hypodermic Needle Theory (Teori Jarum Hipodermik). Teori ini ditampilkan tahun 1950-an setelah peristiwa penyiaran kaleidoskop stasiun radio siaran CBS di Amerika berjudul The Invansion from Mars (Effendy.1993:264-265).

Istilah model jarum hipodermik dalam komunikasi massa diartikan sebagai media massa yang dapat menimbulkan efek yang kuat, langsung, terarah,dan segera. Efek yang segera dan langsung itu sejalan dengan pengertian Stimulus-Respon yang mulai dikenal sejak penelitian dalam psikologi tahun 1930-an.

Model jarum suntik pada dasarnya adalah aliran satu tahap (one step flow), yaitu media massa langsung kepada khalayak sebagai mass audiance. Model ini mengasumsikan media massa secara langsung, cepat, dan mempunyai efek yang amat kuat atas mass audiance. Media massa ini sepadan dengan teori Stimulus-Response (S-R) yang mekanistis dan sering digunakan pada penelitian psikologi antara tahun 1930 dan 1940. Teori S-R mengajarkan, setiap stimulus akan menghasilkan respons secara spontan dan otomatis seperti gerak refleks. Seperti bila tangan kita terkena percikan api (S) maka secara spontan, otomatis dan reflektif kita akan menyentakkan tangan kita (R) sebagai tanggapan yang berupa gerakkan menghindar. Tanggapan di dalam contoh tersebut sangat mekanistis dan otomatis, tanpa menunggu perintah dari otak.

Teori peluru atau jarum hipodermik mengansumsikan bahwa media memiliki kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa. Teori ini mengansumsikan bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang tidak berdaya (pasif).

Menurut Elihu Katz, model ini berasumsi :

1.    Media massa sangat ampuh dan mampu memasukkan ide-ide pada benak komunikan yang tak berdaya.

2.    Khalayak yang tersebar diikat oleh media massa, tetapi di antara khalayak tidak saling berhubungan.

Model Hypodermic Needle tidak melihat adanya variable-variable antara yang bekerja diantara permulaan stimulus dan respons akhir yang diberikan oleh  mass audiance. Elihu Katz dalam bukunya,  “The Diffusion of New Ideas and Practices” menunjukkan aspek-aspek yang menarik dari model hypodermic needle ini, yaitu

1.    Media massa memiliki kekuatan yang luar biasa, sanggup menginjeksikan secara mendalam ide-ide ke dalam benak orang yang tidak berdaya.

2.    Mass audiance  dianggap seperti atom-atom yang terpisah satu sama lain, tidak saling berhubungan dan hanya berhubungan dengan media massa. Kalau individu-individu mass audience berpendapat sama tentang suatu persoalan, hal ini bukan karena mereka berhubungan atau berkomunikasi satu dengan yang lain, melainkan karena mereka memperoleh pesan-pesan yang sama dari suatu media (Schramm, 1963)

Model Hypodermic Needle cenderung sangat melebihkan peranan komunikasi massa dengan media massanya. Para ilmuwan sosial mulai berminat terhadap gejala-gejala tersebut dan berusaha memperoleh bukti-bukti yang valid melalui penelitian-penelitian ilmiah.

Teori Peluru yang dikemukakan Schramm pada tahun 1950-an ini kemudian dicabut kembali tahun 1970-an, sebab khalayak yang menjadi sasaran media massa itu tenyata tidak pasif. Pernyataan Schramm ini didukung oleh Lazarsfeld dan Raymond Bauer.

Lazarfeld mengatakan bahwa jika khalayak diterpa peluru komunikasi, mereka tidak jatuh terjerembab, karena kadang-kadang peluru itu tidak menembus. Ada kalanya efek yang timbul berlainan dengan tujuan si penembak. Sering kali pula sasaran senang untuk ditembak. Sedangkan Bauer menyatakan bahwa khalayak sasaran tidak pasif. Mereka secara aktif mencari yang diinginkannya dari media massa, mereka melakukan interpretasi sesuai dengan kebutuhan mereka.

5.     Teori penggunaan dan pemenuhan kepuasan

Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kebutuhan (bahasa Inggris: Uses and Gratification Theory) adalah salah satu teori komunikasi dimana titik-berat penelitian dilakukan pada pemirsa sebagai penentu pemilihan pesan dan media.

Pemirsa dilihat sebagai individu aktif dan memiliki tujuan, mereka bertanggung jawab dalam pemilihan media yang akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka dan individu ini tahu kebutuhan mereka dan bagaimana memenuhinya. Media dianggap hanya menjadi salah satu cara pemenuhan kebutuhan dan individu bisa jadi menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan mereka, atau tidak menggunakan media dan memilih cara lain.

Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kebutuhan menggunakan pendekatan ini berfokus terhadap audiens member. Dimana Teori ini mencoba menjelaskan tentang bagaimana audiens memilih media yang mereka inginkan. Dimana mereka merupakan audiens / khalayak yang secara aktif memilih dan memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda – beda di dalam mengkonsumsi media.

Menurut para pendirinya, Elihu Katz, Jay G. Blumlerm dan Michael Gurevitch uses and gratifications meneliti asal mula kebutuhan secara psikologis dan sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber-sumber lain , yang membawa pada pola terpaan media yang berlainan, dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan dan akibat-akibat lain.

Pendekatan ini secara kontras membandingkan efek dari media dan bukan ‘apa yang media lakukan pada pemirsanya’ (kritik akan teori jarum hipodermik, dimana pemirsa merupakan obejk pasif yang hanya menerima apa yang diberi media).

Sebagaimana yang diketahui, bahwa kebutuhan manusia yang memiliki motif yang berbeda – beda. Dengan kata lain, setiap orangm emiliki latar belakang, pengalaman dan lingkungan yang berbeda. Perbedaan ini, tentunya berpengaruh pula kepada pemilihan konsumsi akan sebuah media. Katz, Blumler, Gurevitch mencoba merumuskan asumsi dasar dari teori ini , yaitu : Khalayak dianggap aktif, dimana penggunaan media massa diasumsikan memiliki tujuan. Point kedua ialah, dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif yang mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media terletak pada anggota khalayak. Point ketiga, media massa harus bersaing dengan sumber – sumber lain untuk memuaskan kebutuhannya. Dimana kebutuhannya ialah untuk memuaskan kebutuhan manusia, hal ini bergantung kepada khalayak yang bersangkutan. Point keempat, banyak tujuan pemilih media massa disimpulkan dari data yang diberikan anggota khalayak. Point kelima adalah Nilai pertimbangan seputar keperluan audiens tentang media secara spesifik.

Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan dapat dilihat sebagai kecenderungan yang lebih luas oleh peneliti media yang membuka ruang untuk umpan balik dan penerjemahan prilaku yang lebih beragam. Namun beberapa komentar berargumentasi bahwa pemenuhan kepuasan seharusnya dapat dilihat sebagai efek, contohnya film horror secara umum menghasilkan respon yang sama pada pemirsanya, lagipula banyak orang sebenarnya telah menghabiskan waktu di depan TV lebih banyak daripada yang mereka rencanakan. Menonton TV sendiri telah membentuk opini apa yang dibutuhkan pemirsa dan membentuk harapan-harapan.

Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan pada awalnya muncul ditahun 1940 dan mengalami kemunculan kembali dan penguatan di tahun 1970an dan 1980an. Para teoritis pendukung Teori Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan berargumentasi bahwa kebutuhan manusialah yang memengaruhi bagaimana mereka menggunakan dan merespon saluran media. Zillman sebagaimana dikutip McQuail telah menunjukkan pengaruh mood seseorang saat memilih media yang akan ia gunakan, pada saat seseorang merasa bosan maka ia akan memilih isi yang lebih menarik dan menegangkan dan pada saat seseorang merasa tertekan ia akan memilih isi yang lebih menenangkan dan ringan. Program TV yang sama bisa jadi berbeda saat harus kepuasan pada kebutuhan yang berbeda untuk individu yang berbeda. Kebutuhan yang berbeda diasosiasikan dengan kepribadian seseorang, tahap-tahap kedewasaannya, latar belakang, dan peranan sosialnya. Sebagai contoh menurut Judith van Evra anak-anak secara khusu lebih menyukai untuk menonton TV untuk mencari informasi dan disaat yang sama lebih mudah dipengaruhi

Saturday, 28 June 2014

Komunikasi Organisasi

TEORI KOMUNIKASI ORGANISASI


Definisi fungsional :
Pertunjukan dan penafsiran pesan diantara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Suatu organisasi terdiri dari unit-unit komunikasi dalam hubungan-hubungan hierarkis antara yang satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan.

Definisi interpretif:
Proses penciptaan makna atas interaksi yang merupakan organisasi.
Kom. Org adalah proses penciptaan makna atas interaksi yang menciptakan, memelihara dan mengubah organisasi.

Perspektif komunikasi :
Organisasi tidak terbentuk karena adanya surat / dokumen persetujuan, tetapi organisasi ada sejak adanya interaksi/komunikasi tertentu diantara orang-orang yang menunjukkan bahwa mereka tengah  berorganisasi.

PENDEKATAN KOMUNIKASI ORGANISASI


Objektivis/makro   (organisasi dipandang sebagai suatu struktur global yang berinteraksi dengan lingkungannya; memproses informasi&lingkungan)                 
Transisional/individual
(berpusat pada tingkahlaku komunikasi individual dalam organisasi; berbicara pada kelompok kerja)        
Subjektivis / mikro
(komunikasi antara anggota kelompok; orientasi&pelatihan)                        
PERSEPSI
1.      Redding & Sanborn
Kom. Org adalah pengiriman & penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks. (komunikasi internal, hubungan manusia, downward, upward, horizontal, keterampilan komunikasi {berbicara, mendengarkan, menulis} dan evaluasi program.
2.      Katz & Kahn
Kom. Org merupakan arus informasi & pemindahan arti di dalam org.
3.      Zelko & Dance
Kom. Org adalah suatu system yang saling tergantung yang mencakup internal & eksternal.
4.      Thayer
3 sistem komunikasi dalam Org ;
             I.            Berkenaan dengan kerja organisasi seperti data mengenai tugas-tugas / beroperasinya Org.
          II.            Berkenaan dengan pengaturan Org seperti perintah, aturan & petunjuk.
       III.            Berkenaan dengan pemeliharaan & pengembangan Org. (berhubungan dengan individu & masyarakat, pembuat iklan & latihan)
5.      Greenbaum
Bidang kom. Org termasuk arus komunikasi formal & informal dalam organisasi, komunikasi internal & eksternal dan memandang peranan komunikasi terutama sebagai koordinasi pribadi & tujuan org. serta masalah menggiatkan aktivitas)

SIMPULAN
Þ Kom. Org terjadi dalam suatu system terbuka yang kompleks yang dipengaruhi oleh lingkungannya sendiri baik internal & eksternal.
Þ    Kom. Org meliputi pesan & arus, tujuan dan media.
Þ    Kom. Org meliputi orang & sikapnya, perasaaan, hubungan dan keterampilannya.



TEORI STRUCTURAL KLASIK / ORGANISASI KLASIK
Konsep tentang organisasi sebenarnya telah berkembang mulai tahun. 1800an dan konsep-konsep ini sekarang dikenal sebagai teori klasik (classical theory) atau kadang-kadang disebut juga teori tradisional atau teori struktural klasik. Dampak teori klasik pada organisasi telah dan masih dirasakan sangat besar. Sebagai contoh organisasi yang didasarkan birokrasi dan banyak bagian dari teori klasik.

  • Karakteritik Organisasi Weberian
    Kata birokrasi mula-mula berasal dari kata legal-rasional. Organisasi disebut rasional dalam hal penetapan tujuan dan perancangan organisasi untuk mencapai tujuan tersebut.

Menurut Weber bentuk organisasi birokratik adalah bentuk yang paling efisien. Oleh karena itu Weber berpendapat bahwa masyarakat perlu membentuk organisasi, “baru” selain masyarakat tradisional.

Blau&Scott (1962) merupakan landasan bagi teori ini ---> organisasi social & organisasi formal
Social :
-          merujuk pada pola-pola interaksi social (frekuensi, intensitas kontak, horizontal)
-          adanya pola yang mengisyaratkan bahwa terdapat hubungan antara orang-orang yang mentransformasikan mereka dari suatu kumpulan individu menjadi sekelompok orang / sejumlah kelompok menjadi suatu system social yang lebih besar.
-          Kepercayaan bersama yang menghasilkan suatu struktur yang lebih daripada sejumlah individu (kelompok)

 Komunikasi berhubungan dengan organisasi social melalui 3 cara:
  1. system social dihasilkan lewat komunikasi.
  2. system social mempengaruhi bagaimana, ke dan dari siapa, dan dengan pengaruh bagaimana komunikasi terjadi di antara anggota-anggota.
# meningkatkan kemungkinan berbicara secara horizontal, dan mengurangi kemungkinan komunikasi vertical (upward & downward)
  1. membuat prediksi yang akurat mengenai orang-orang tanpa mengetahui lebih banyak
Berlo (1960)
Formal :
-          jika pencapaian suatu  tujuan tertentu memerlukan tujuan bersama, suatu organisasi dirancang untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan banyak individu dan untuk memberi rangsangan kepada orang-orang lainnya untuk membantu mereka.
# bisnis dibentuk untuk untuk menghasilkan barang-barang yang dapat dijual, badan-badan pemerintah dibentuk untuk mengatur keuangan.
-          tujuan yang harus dicapai, aturan-aturan yang harus dipatuhi, dan struktur status secara sengaja dirancang untuk mengantisipasi dan mengarahkan interaksi dan kegiatan anggota
-          organisasi formal = birokrasi, birokrasi adalah organisasi yang menunjukan kombinasi karakteristik, efisiensi berkaitan dengan suatu pola otoritas (kewenangan) yang hierarkis.
-          Jika kewenangan hierarkis tidak berkaitan dengan efisiensi di organisasi, maka organisasi itu tidak sepenuhnya terbirokratisasikan. 

10 Ciri organisasi atas karya Weber:
  1. Suatu organisasi terdiri dari hubungan-hubungan yang ditetapkan antara jabatan-jabatan. Masinis, letnan, sersan, dosen.
  2. Tujuan atau rencana organisasi terbagi ke dalam tugas-tugas, tugas-tugas org. disalurkan diantara berbagai jabatan sebagai kewajiban resmi.
  3. Kewenangan: melaksanakan kewajiban diberikan kepada jabatan.kewenangan legal, dan di sah kan secara hukum.
  4. Garis kewenangan dan jabatan diatur menurut suatu tatanan hirarkis. (upward & downward)
  5. Sistem aturan dan regulasi yang umum tetapi tegas yang ditetapkan secara formal, mengatur tindakan-tindakan dan fungsi-fungsi jabatan dalam organisasi.
  6. Prosedur bersifat formal dan impersonal. Perlu adanya catatan tertulis demi kontinuitas, keseragaman (uniformitas), dan untuk maksud-maksud transaksi. Prosedur impersonal ini dirancang untuk menjaga perasaan pejabat agar penilaian rasionalnya tidak menyimpang.dalam menjalankan kewajibannya.
  7. Disiplin
  8. Anggota organisasi harus memisahkan kehidupan pribadi dan kehidupan organisasi.
  9. Pegawai yang dipilih untuk bekerja berdasarkan kualifikasi teknis
  10. Kenaikan jabatan berdasarkan senioritas dan prestasi kerja.

Implikasi teori Weber pada komunikasi organisasi:
suatu fenomena yang disebut komunikasi jabatan (positional communication). Hubungan dibentuk antara jabatan-jabatan, bukan antara orang-orang.


Manajemen Ilmiah Taylor
Pendekatan Taylor terhadap manajemen dilakukan di sekitar 4 unsur fungsi: pembagian kerja, proses skalar dan fungsional, struktur dan rentang kekuasaan.
  1. Pembagian kerja: menyangkut bagaimana tugas, kewajiban dan pekerjaan organisasi didistribusikan. Pekerjaan setiap orang dlm org. hrs terbatas pada pelaksanaan suatu fungsi.
  2. Proses Skalar dan fungsional. Berkaitan dengan pertumbuhan vertikal dan horizontal organisasi. Proses saklar menunjukkan rantai perintah atau dimensi vertikan organisasi.
  3. Struktur. Berkaitan dengan hubungan-hubungan logis antara berbagai fungsi yang ada dalam organisasi.
Ø  Lini: kewenangan terakhir terletak pada jabatan-jabatan dalam struktur itu.
Ø  Staf: memberi nasihat dan jasa untuk membantu lini.
Ø  Struktur tinggi dan struktur datar: Struktur tinggi mempunyai banyak tingkat kewenangan dengan manajernya yang mempnuayai rentang pengawasan yang sempit. Organisasi berstrutur datar ditandai dengan aktivitas individualistik dan usaha pemberdayaan.
  1. Rentang pengawasan. Jumlah bawahan yang berada di bawah pengawasan seorang atasan
Ada 3 unsur organisasi formal:
  1. Sistem kegiatan yang terkoordinasi. Organisasi dalam kenyatanya selalu terdiri dari bagian-bagian dan hubungan-hubungan. Bagian-bagian organisasi merupakan kegiatan-kegiatan atau fungsi-fungsi yang dilaksanakan dan saling berhubungan.
  2. Kelompok orang
  3. Kerjasama utk mencapai tujuan

Dasar-dasar organisasi klasik
  1. Kekuasaan, bisa demokratis atau otokratis
  2. Saling melayani-merupakan legitimasi sosial pada organisasi. Setiap organisasi ada dan diakui oleh masyarakat umum
  3. Doktrin-rumusan tujuan organisasi
  4. Disiplin- perilaku yang ditentukan oleh perintah atau pengendalian diri.

Perspektif subjektivis
Teori struktural klasik sederhana dan menarik. Teori itu menunjukkan bahwa bila struktur ditemukan, perilaku akan dapat diramalkan, rasional dan efisien. Bila setiap orang mengetahui peranan, tanggung jawab dan kepada siapa mereka harus bertanggung jawab, oraganisasi dapat berjalan baik. Struktur menentukan perilaku dan menghasilkan keteramalan

TEORI NEOKLASIK / TRADISIONAL / TRANSISIONAL / INDIVIDUAL
Konsepsi lama tetap memberikan pengaruh penting terhadap cara orang memahami organisasi, namun perbaikan-perbaikan dalam model mulai membawa perubahan praktis dalam cara kita merumuskan organisasi.
Hugo Munsterberg menekankan adanya perbedaan-perbedaan karakteristik individu dalam organisasi-organisasi. Sebagai tambahan Munsterberg mengingatkan adanya pengaruh faktor-faktor sosial dan budaya terhdap organisasi.
Percobaan Hawthorne merupakan kristalisasi teori neoklasik
Percobaan pertama: meneliti pengaruh perbedaan tingkat penerangan (cahaya) dalam pekerjaan thd produktivitas kerja atau efisiensi para karyawan.
Percobaan kedua: April 1927, percobaan ini melibatkan kelompok kecil pekerja, yang terdiri di enam orang gadis pekerja pada perakitan listrik.
Hasil penelitian:  Hubungan sosial atau manusiawi diantara peneliti dan penyelia lebih penting dlm menentukan produktivitas.
Kontribusi penting studi Hawthorne:
Organisasi adalah suatu sistem terbuka di mana segmen-segmen teknis dan manusiawi saling berkaitan erat. Studi tersebut juga menekankan pentingnya sikap karyawan.

Kritik dan “usul”perubahan neoklasik pada tiang dasar organisasi formal.
Pembagian Kerja (Division of Labor)
Teori neoklasik mengemukakan perlunya:
  1. partisipasi atau melibatkan setiap orang dalam proses pengambilan keputusan
  2. perluasan kerja (job enlargement) sebagai kebalikan dari spesialisasi
  3. manajemen bottmom up: memberi kesempatan bagi junior untuk berpartisipasi
Struktur Organisasi
Struktur merupakan penyebab terjadinya pergeseran-pergeseran (frictions)

Pandangan Neoklasik Terhadap Organisasi Formal
Titik tekanan teori neoklasik adalah pada 2 elemen pokok dalam organisasi: perilaku individu dan kelompok pekerja.
Fenomena organisasi informal: orang-orang yang bergabung menjadi suatu kelompok; kelompok alamiah yang terbentuk sebagai hasil interaksi diantar para karyawan.

Faktor-faktor yang menentukan munculnya organisasi formal:
  1. Lokasi
  2. Jenis Pekerjaan
  3. Minat (Interests)
  4. Masalah-masalah khusus
TEORI PERILAKU
Teori perilaku atau the behavior theory of organitation, berpendapat bahwa ada tidaknya, baik buruknya, suatu organisasi itu tergantung dari sikap kelakuan para anggotanya. Salah seorang penganut teori ini yang terkenal adalah Herbert A. Simon dalam bukunya ‘’Administrative Behaviour”.
Namun, sejak Barnard (1938) mempublikasikan “the function of the executive”, pikiran-pikiran baru muncul. Ia menyatakan bahwa organisasi adalah system orang, bukan struktur yang direkayasa secara mekanis.
Masalah organisasi terpenting menurut penganut teori ini adalah bagaimana membuat para warga organisasi itu bersikap, berpikir dan bertingkah laku sebagai manusia organisasi yang tepat.
Barnard juga menyatakan bahwa kewenangan merupakan suatu fungsi kemauan untuk bekerja sama. 4 syarat yang harus dipenuhi sebelum seseorang menerima suatu pesan yang otoritatif :
    1. memahami pesan
    2. percaya bahwa pesan tersebut tidak bertentangan dengan tujuan organisasi
    3. percaya, pada saat memutuskan untuk kerja sama, pesan yang dimaksud sesuai dengan minatnya.
    4. memiliki kemampuan fisik dan mental untuk melaksanakan pesan.

Kemudian seperangkat premis ini menjadi terkenal sebagai teori penerimaan kewenangan, yakni kewenangan yang berasal dari tingkat atas organisasi sebenarnya merupakan kewenangan nominal. Kewenangan menjadi nyata apabila diterima. Namun, Barnard menunjukkan bahwa banyak pesan tidak dapat dianalisis, dinilai dan diterima, atau ditolak dengan sengaja. Tetapi kebanyakan arahan, perintah dan pesan persuasive termasuk ke dalam zona acuh-tak-acuh (zone of indifference) seseorang.

100%                                                         0%                                                        100%
(Kemauan yang 100% untuk bekerja sama memperlihatkan zona yang memanjang dengan kedua arahnya menuju skala 100%. Suatu penolakan pesan yang mutlak {arahan, perintah & permohonan} menunjukkan suatu zona yang nilai-nilainya adalah nol)
Banyak pesan dalam suatu organisasi dirancang untuk memperlebar zona acuh-tak-acuh pegawainya. Lebar zona setiap bawahan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Seorang bawahan boleh jadi mau menerima suatu pesan dengan penuh kehangatan dan penerimaan, bawahan lainnya tidak mau menerima tetapi juga tidak berarti menolaknya, sedangkan seorang bawahan ketiga sama sekali menolak pesan tersebut.
# jadi kewenangan formal sama sekali tidak efektif jika terjadi penolakan oleh anggota dalam organisasi.
# Tannenbaum (1950) menyatakan bahwa, “luas kewenangan yang dimiliki atasan ditentukan oleh luas penerimaan bawahannya.”

*      Teori hubungan manusiawi (Elton Mayo)
Hubungan manusia sangat penting dalam menopang suatu perusahaan dalam jangka panjang. Hubungan manusia bisa diinterprestasikan dalam bermacam-macam cara.
Sebagian organisasi dan orang-orang melihat hubungan manusia dari sudut pandang yang berbeda secara keseluruhan.
Bagaimanapun, hubungan manusia dalam ruang lingkup pekerjaan dan dilihat dari sudut pandang manajemen, kesimpulannya bahwa hal itu dapat diklasifikasikan menjadi dua point, yaitu :
  1. Hubungan Industri atau hubungan manusia dimana hasil dari sebuah rapat antara para manajer dan para pekerja.
  2. Hubungan pribadi atau hubungan manusia dapat membuka atau menumbuhkan eksistensi didalam semua lingkungan pekrjaan.

Kemajuan dari hubungan diantara semua level yang telah diterima sebagai elemen penting di dalam perkembangan dan kemajuan dari setiap industri organisasi, dan dimana sebagian kesuksesan jangka panjang manajemen yang tidak mengutamakan kesepakatan dari usaha yang telah diarahkan.
Bagaimanapun, kemungkinan dari kebijaksanaan untuk perbaikan hubungan manusia bisa menjadikan pengejaran melulu karena efek di dalam produksi, dan bukan dari alasan pokok dari proses produksi untuk sikap yang benar dan seimbang kepada pribadi seseorang dan keperluan sosial dari para pekerja. Output yang lebih tinggi dapat membawa kita ketingkat kepuasan yang lebih tinggi pula bagi para pekerja.
Teori hubungan manusia ini menekankan pada pentingnya individu dan hubungan sosial dalam kehidupan organisasi. Teori ini menyarankan strategi peningkatan dan penyempurnaan organisasi dengan meningkatkan kepuasan anggota organisasi dan menciptakan organisasi yang dapat membantu individu mengembangkan potensinya. Dengan meningkatkan kepuasan kerja dan mengarahkan aktualisasi diri pekerja, akan mempertinggi motivasi bekerja sehingga akan dapat meningkatkan produksi organisasi.

“Hasil yang lebih baik berkaitan dengan kondisi-kondisi kerja yang lebih menyenangkan, lebih bebas dan lebih membahagiakan”. (Miller & Form)

“Komunikasi yakni kemampuan seorang individu untuk menyatakan perasaan & gagasannya kepada orang lain, kemampuan kelompok untuk berkomunikasi secara efektif dan intim dengan kelompok lainnya” (Mayo ; 1945)

Hubungan manusiawi muncul setelah perang dunia II. Sofer (1973) mengatakan bahwa Mayo dan kawan-kawannya menunjukkan secara ilmiah bahwa “suatu kelompok memiliki kehidupannya sendiri, lengkap dengan adat istiadat, norma dan control social yang efektif atas anggota-anggotanya.”

# Kritik terhadap teori ini menyatakan bahwa pergerakan ini terlalu asyik dengan orang-orang & hubungan-hubungan mereka & mengabaikan keseluruhan sumber daya org. & anggota-anggotanya. Keinginan memberikan respons terhadap kebutuhan pribadi & oraganisasi telah menjadi suatu konsekuensi dari dasar-dasar yang telah diletakkan teoretisi terdahulu mengenai perilaku.

 Teori Fusi  (Bakke & Argyris)
Banyaknya masalah dalam memuaskan minat manusia yang berlainan & dalam konteks memenuhi tuntutan penting struktur birokrasi, Bakke (1950) menyarankan suatu proses fusi. Pendapatnya bahwa organisasi, hingga suatu tahap tertentu, mempengaruhi individu, sementara pada saat yang sama individu pun mempengaruhi organisasi.
Argyris (1957), seorang rekan bakke di Universitas Yale, menyempurnakan karya Bakke. Ia berpendapat bahwa ada suatu ketidaksesuaian yang mendasar antara kebutuhan pegawai yang matang dengan persyaratan formal organisasi. Organisasi mempunyai tujuan yang berlawanan dengan tujuan pegawai perseorangan. Para pegawai frustasi sebagai akibat dari ketidaksesuaian tersebut; sebagian pegawai mungkin meninggalkan tempat kerja mereka, menjadi apatis & acuh-tak-acuh. Melalui konflik ini para pegawai laiinya menyadari untuk tidak mengharapkan kepuasan dari pekerjaan mereka.

  Teori peniti penyambung (Likert)
Rensis Likert dari Universitas Michigan berjasa mengembangkan suatu model terkenal dengan sebutan model peniti penyambung (the linking pin model) yang menggambarkan struktur organisasi. Konsep peniti penyambung berkaitan dengan kelompok-kelompok yang tumpang tindih. Penyelia merupakan anggota dari 2 kelompok ; sebagai pemimpin unit yang lebih rendah dan anggota unit yang lebih tinggi. Penyelia berfungsi sebagai peniti penyambung, mengikat kelompok kerja yang satu dengan yang lainnya pada tingkat berikutnya.
Organisasi dengan struktur peniti penyambung menggalakan orientasi ke atas daripada ke bawah; komunikasi, pengaruh pengawasan dan pencapaian tujuan diarahkan ke atas dalam org.
Luthans (1973) berpendapat bahwa konsep peniti penyambung cenderung menekankan & memudahkan apa yang seharusnya terjadi dalam struktur klasik yang birokratik. Tetapi pola hierarkis atasan bawahan, sering mendorong komunikasi ke bawah, namun menghambat komunikasi ke atas dan ke samping.

# Kritik teori ini, adalah lambatnya tindakan kelompok, yang merupakan ciri organisasi berstruktur peniti penyambung, harus diimbangi dengan manfaat partisipasi yang positif-kontribusi kepada perencanaan, komunikasi yang lebih terbuka, dan komitmen anggota-yang tumbuh dari struktur peniti penyambung.

TEORI SISTEM
Teori sistem memandang organisasi sebagai kaitan bermacam-macam komponen yang saling tergantung satu sama lain dalam mencapai tujuan organisasi. Setiap bagian mempunyai peranan masing-masing dan berhubungan dengan bagian-bagian lain dan karena itu koordinasi penting dalam teori ini.
Teori sistem adalah seperangkat prinsip yang terorganisasikan secara longgar dan sangat abstrak, yang berfungsi mengarahkan pikiran kita namun terikat pada berbagai penafsiran. (Fisher ; 1978)
Interdependensi menunjukkan bahwa terdapat kesaling bergantungan di antara komponen-komponen / satuan-satuan suatu sistem. Suatu perubahan pada suatu komponen membawa perubahan pada setiap komponen lainnya.
Teori sistem memberikan suatu model deskripsi yang sangat kuat mengenai proses organisasi. Teori ini mempunyai banyak implikasi dan telah digunakan untuk mendeskripsikan fenomena organisasi dalam konteksnya sendiri.
Teori sistem menangani hakikat saling hubungan yang kompleks dari organisasi manusia dan menguraikan bagaimana organisasi bertumbuh dan berkembang. Tipe komunikasi yang dominan dalam organisasi yang menggunakan teori ini adalah komunikasi horizontal, baik dalam lingkungan organisasi maupun antara organisasi dengan organisasi lainnya.
Weick menggunakan teori sistem untuk menjelaskan pengaruh informasi yang berasal dari luar organisasi ke dalam internal organisasi & sebaliknya, untuk memahami bagaimana organisasi mempengaruhi lingkungan eksternalnya.


TEORI ORGANISASI MODERN / MUTAKHIR
Aliran besar ketiga dalam teori organisasi adalah teori modern, yang kadang-kadang disebut juga analisa sistem.
Teori modern adalah multidisiplin dengan sumbangan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Interaksi dinamis antar proses, bagian dan fungsi dalam suatu organisasi, maupun dengan orang lain dan dengan lingkungan
Teori modern mengemukakan bahwa organisasi bukanlah sistem tertutup yang berkaitan dengan lingkungan yang stabil, tetapi organisasi merupakan sistem terbuka yang harus menyesuaikan diri dg lingkungannya.



Teori organisasi modern dan teori sistem umum:
  1. Bagian-bagian (individu) dalam sistem keseluruhan dan pergerakan individu di dalam dan di luar sistem
  2. Interaksi individu dengan lingkungan yang terjadi dalam sistem.
  3. Masalah-masalah pertumbuhan dan stabilitas sistem.
  4. Masalah pertumbuhan dan stabilitas sistem.
Bagian-bagian dari sistem dan saling ketergantungannya
  1. Sistem adalah individu dan struktur kepribadiannya yang diberikan kepada organisasi. Unsur utama kepribadian adalah motif.
  2. Penentuan fungsi-fungsi formal yang biasa disebut organisasi formal.
  3. Organisasi informal: individu mempunyai harapan untuk memuaskan kebutuhannya melalui kontaknya dg orang lain
  4. Struktur status dan peranan
  5. Lingkungan fisik
Proses hubungan dalam sistem:
  1. Komunikasi: mempelajari jaringan komunikasi dalam sistem.
  2. Konsep keseimbangan: penyeimbangan mekanisme yang dicapai dengan cara menjaga hubungan struktural yang harmonis.
  3. Proses pengambilan keputusan: variabel internal dalam suatu organisasi yang tergantung pada pekerjaan, harapan-harapan individu, motivasi dan struktur organisasi.
TEORI MENGENAI PENGORGANISASIAN (WEICK)
Weick (1979) menyatakan bahwa  organisasi adalah suatu system yang menyesuaikan dan menopang dirinya dengan mengurangi ketidakpastian yang dihadapinya.
Suatu system berrsifat manusiawi. Manusia tidak hanya menjalankan organisasi; manusia merupakan organisasi tersebut.
Semakin sedikit ketidakjelasan pesan yang dimasukkan ke dalam system, semakin mudah menggunakan aturan yang sudah ditentukan. Sebaliknya, semakin banyak ketidakjelasan pesan yang dimasukkan ke dalam system, semakin besar kemungkinan digunakannya siklus komunikasi (interaksi ganda) untuk menangani ketidakpastian ini.
Double interact à      A berkomunikasi dengan B
                                    B memberi respons pada A
                                    A membuat beberapa penyesuaian / memberi respons pada B

Tiga tahap dalam proses pengorganisasian (Weick ; 1979)
    1. Tahap pemeranan (enactment)
Menghimpun sesuatu bagian dari sejumlah pengalaman untuk diperhatikan lebih lanjut. Para anggota organisasi menciptakan ulang lingkungan mereka dengan menentukan & merundingkan makna khusus bagi suatu peristiwa.
    1. Tahap seleksi
Memasukkan seperangkat penafsiran ke dalam bagian yang dihimpun. Aturan-aturan dan siklus komunikasi digunakan untuk menentukan pengurangan yang sesuai dalam ketidakjelasan.
    1. Tahap retensi
Penyimpanan segmen-segmen yang sudah diinterpretasikan unutk pemakaian pada masa mendatang. Organisasi menyimpan informasi mengenai cara organisasi itu memberi respons / berbagi situasi.

Weick (1985) menyatakan bahwa dalam diskusi –diskusi mutakhir mengenai organisasi “rasionalitas dipandang (1) sebagai sebuah himpunan yang berubah bila isu berubah, (2) sebagai dalih untuk menarik minat sumber daya dan legitimasi, dan (3) sebagai suatu proses pascatindakan yang digunakan secara retrospektif untuk menentukan alasan atas tindakan tersebut.”

Thursday, 26 June 2014

Komunikasi Antar Pribadi


 
Komunikasi antar pribadi adalah komunikasi yang berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kerumunan orang
Komunikasi Interpersonal  adalah interaksi orang ke orang, dua arah, verbal dan non verbal. Saling berbagi informasi dan perasaan antara individu dengan individu atau
antar individu di dalam kelompok kecil.

  Menurut Devito (1989), komunikasi interpersonal adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera (Effendy,2003, p. 30).
 
  Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal atau nonverbal. Komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi yang hanya dua orang, seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid dan sebagainya
Menurut Effendi, pada hakekatnya komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar komunikator dengan komunikan, komunikasi jenis ini dianggap paling efektif dalam upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang, karena sifatnya yang dialogis berupa percakapan. Arus balik bersifat langsung, komunikator mengetahui tanggapan komunikan ketika itu juga. Pada saat komunikasi dilancarkan, komunikator mengetahui secara pasti apakah komunikasinya positif atau negatif, berhasil atau tidaknya. Jika ia dapat memberikan kesempatan pada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya 
 
  Komunikasi Interpersonal Antara Dua Orang adalah komunikasi dari seseorang ke orang lain, dua arah interaksi verbal dan nonverbal yang menyangkut saling berbagi informasi dan perasaan.
 
  Komunikasi Interpersonal Antara Tiga Orang/ lebih, menyangkut komunikasi dari orang ke beberapa oarng lain (kelompok kecil). Masing-masing anggota menyadari keberadaan anggota lain, memiliki minat yang sama dan/atau bekerja untuk suatu tujuan
Pengertian dan Tujuan Komunikasi antarpribadi
 
Setiap individu dalam suatu organisasi (bisnis maupun non bisnis) dalam kehidupan sehari-harinya tidak dapat dilepaskan dengan dunia komunikasi. Salah satu jenis komunikasi adalah komunikasi antarpribadi.
  Komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang dilakukan seseorang dengan orang lain dalam suatu masyarakat maupun organisasi (bisnis dan non bisnis) dengan menggunakan media komunikasi tertentu dan bahasa yang mudah dipahami (informal) untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Berdasarkan pengertian tersebut, paling tidak ada 4 hal tertentu yang perlu diperhatikan dalam mencermati definisi Komunikasi antarpribadi yakni :
 
a. Komunikasi dilakukan oleh dua orang atau lebih.
b. Menggunakan media tertentu, misalnya telepon, telepon seluler, atau bertatap muka.
c. Bahasa yang digunakan biasanya bersifat informal (tidak baku) , kadang-kadag menggunakan bahasa daerah, bahasa pergaulan atau bahasa campuran.
d. Tujuan yang ingin dicapai dapat bersifat personal atau pribadi bila komunikasi terjadi dalam suatu masyarakat, dan untuk pelaksanaan tugas pekerjaan bila komunikasi terjadi dalam suatu organisasi.
Di dalam suatu masyarakat, komunikasi antar pribadi merupakan bentuk komunikasi antara seseorang dengan orang lain dalam suatu masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu yang bersifat pribadi.
Tujuan Komunikasi antarpribadi
Tujuan komunikasi antarpribadi antara lain sebagai berikut :
 
  1. Menyampaikan informasi
 
Ketika berkomunikasi dengan orang lain , tentu saja seseorang memiliki berbagai macam tujuan dan harapan. Salah satu diantaranya adalah untuk menyampaikan informasi kepada orang lain agar orang lain tersebut dapat mengetahui informasi tersebut.
 
  2. Berbagi pengalaman
 
Dengan komunikasi antarpribadi juga memiliki fungsi atau tujuan untuk berbagi pengalaman baik itu pengalaman yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan
  3. Menumbuhkan simpati
 
  4. Melakukan kerja sama
 
Tujuan komunikasi antarprbadi yang lainnya adalah untuk melakukan krjasama antara seseorang dengan orang lain untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kedua belah pihak.
 
  5. Menceritakan kekecawaan atau kekesalan
 
Komunikasi antarpribadi juga dapat digunakan seseorang untuk menceritakan rasa kecewa atau kekesalan pada orang lain. Dengan pengungkapan rasa hati itu, sedikit banyak akan mengurangi beban pikiran. Kadang disebut dengan plong ketika telah bercerita apa yang selama ini dipendam
 
  6. Menumbuhkan motivasi
 
Melalui komunikasi antarpribadi, seseorang dapat memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu yag baik dan positif. Motivasi adalah dorongan kuar dari dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu. Pada dasarnya, seseorang cenderung untuk melakukan sesuatu karena dimotivasi orang lain dengan cara-cara seperti pemberian insentif yang bersifat financial maupun non financial, memberikan pengakuan atas kinerjanya ataupun memberikan penghargaan kepada karyawan yang berprestasi
Komunikasi Efektif Antar Personal
Komunikasi Antar Personal
 
•Suatu proses pertukaran makna antara orang-orang yang saling berkomunikasi. Komunikasi terjadi secara tatap muka (face to face) antara dua individu atau dengan perantaraan non media massa.
Karakter KAP (Judy C. Pearson)
 
1. KAP dimulai dengan diri pribadi (self). Berbagai persepsi komunikasi yang menyangkut pemaknaan berpusat pada diri kita, artinya dipengaruhi oleh pengalaman dan pengamatan kita.
 
•2. KAP bersifat transaksional. Anggapan ini mengacu pada pihak-pihak yang berkomunikasi secara serempak dan bersifat sejajar, menyampaikan dan menerima pesan.
 
3. KAP mencakup aspek-aspek isi pesan dan hubungan antarpribadi. Artinya isi pesan dipengaruhi oleh hubungan antar pihak yang berkomunikasi.
 
4. komunikasi antarpribadi mensyaratkan kedekatan fisik antar pihak yang berkomunikasi.
 
5. KAP melibatkan pihak-pihak yang saling bergantung satu sama lainnya dalam proses komunikasi.
 
•6. KAP tidak dapat diubah maupun diulang. Jika kita salah mengucapkan sesuatu pada pasangan maka tidak dapat diubah. Bisa memaafkan tapi tidak bisa melupakan atau menghapus yang sudah dikatakan.
 
Tujuan KAP
Sebagai sarana pembelajaran. Melalui komunikasi antarpribadi kita belajar untuk lebih memahami dunia luar atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini. Walaupun sebagian besar informasi tersebut kita dapatkan melalui media massa, informasi tersebut dapat kita bicarakan melalui komunikasiantarpribadi.
 
Mengenal diri sendiri dan orang lain. Melalui komunikasi antarpribadi kita dapat mengenal diri kita sendiri. Dengan membicarakan tentang diri kita sendiri pada orang lain, kita akan mendapatkan perspektif baru tentang diri kita sendiri dan memahami lebih mendalam tentang sikap dan perilaku kita. Persepsi diri kita sebagian besar merupakan hasil interkasi kita dengan orang lain.
 
Komunikasi antarpribadi membantu kita dalam membentuk suatu relasi (person to person). Karena manusia adalah mahluk social, maka kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain merupakan kebutuhan yang paling besar.
 
Melalui komunikasi antarpribadi kita dapat mempengaruhi individu untuk melakukan sesuatu sesuai dengan yang kita inginkan.
 
Melalui komunikasi antarpribadi kita dapat mengakrabkan diri kita dengan orang lain.
Bermain dan mencari hiburan. Dalam berkomunikasi tidak selamanya kita selalu berusaha mempengaruhi orang lain. Kita berkomunikasi juga untuk memperoleh kesenangan. Bercerita tentang film yang kita tonton, melontarkan lelucon, membicarakan hobi merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperolah hiburan.
 
Faktor KAP yang tidak terlihat
 
Faktor1: Meaning (makna).
 
Ketika simbol ada, maka makna itu ada dan bagaimana cara menanggapinya. Intonasi suara, mimik muka, kata-kata, gambar dsb. Merupakan simbol yang mewakili suatu makna. Misalnya intonasi yang tinggi dimaknai dengan kemarahan, kata pohon mewakili tumbuhan dsb.
 
Faktor 2: Learning
 
•Interpretasi makna terhadap simbol muncul berdasarkan pola-pola komunikasi yang diasosiasikan pengalaman, interpretasi muncul dari belajar yang diperoleh dari pengalaman. Interpretasi muncul di segala tindakan mengikuti aturan yang diperoleh melalui pengalaman.
•Pengalaman merupakan rangkaian proses memahami pesan berdasarkan yang kita pelajari. Jadi makna yang kita berikan merupakan hasil belajar.
•Pola-pola atau perilaku komunikasi kita tidak tergantung pada turunan/genetik, tapi makna dan informasi merupakan hasil belajar terhadap simbol-simbol yang ada di lingkungannya.
•Membaca, menulis, menghitung adalah proses belajar dari lingkungan formal.
•Jadi, kemampuan kita berkomunikasi merupakan hasil learning (belajar) dari lingkungan.
 
Faktor 3: Subjectivity
 
•Pengalaman setiap individu tidak akan pernah benar-benar sama, sehingga individu dalam meng-encode (menyusun atau merancang) dan men-decode (menerima dan mengartikan) pesan tidak ada yang benar-benar sama.
•Interpretasi dari dua orang yang berbeda akan berbeda terhadap objek yang sama.
 
Faktor 4: Negotiation
 
•Komunikasi merupakan pertukaran symbol. Pihak-pihak yang berkomunikasi masing-masing mempunyai tujuan untuk mempengaruhi orang lain. Dalam upaya itu terjadi negosiasi dalam pemilihan simbol dan makna sehingga tercapai saling pengertian.
•Pertukaran simbol sama dengan proses pertukaran makna.
•Masing-masing pihak harus menyesuaikan makna satu sama lain.
 
Faktor 5: Culture
 
•Setiap individu adalah hasil belajar dari dan dengan orang lain.
•Individu adalah partisipan dari kelompok, organisasi dan anggota masyarakat.
•Melalui partisipasi berbagi simbol dengan orang lain, kelompok, organisasi dan masyarakat.
•Simbol dan makna adalah bagian dari lingkungan budaya yang kita terima dan kita adaptasi.
•Melalui komunikasi budaya diciptakan, dipertahankan dan dirubah.
•Budaya menciptakan cara pandang (point of view)
 
Faktor 6: Self
 
•Self reference.
Perilaku dan simbol-simbol yang digunakan individu mencerminkan pengalaman yang dimilikinya, artinya sesuatu yang kita katakan dan lakukan dan cara kita menginterpretasikan kata dan tindakan orang adalah refleksi makna, pengalaman, kebutuhan dan harapan-harapan kita.
•Self reflexivity.
 
Kesadaran diri (self-cosciousnes) merupakan keadaan dimana seseorang memandang dirinya sendiri (cermin diri) sebagai bagian dari lingkungan. Inti dari proses komunikasi adalah bagaimana pihak-pihak memandang dirinya sebagai bagian dari lingkungannya dan itu berpengaruh pada komunikasi.
 
Faktor 7: Inevitability
 
•Kita tidak mungkin tidak berkomunikasi. Walaupun kita tidak melakukan apapun tetapi diam kita akan tercermin dari nonverbal yang terlihat, dan itu mengungkap suatu makna komunikasi.
Definisi , Hakikat, Ciri-ciri dan Tujuan Komunikasi Antarpribadi
Dosen : Rifqi Muflih, S.Sos
DEFINISI KOMUNIKASI ANTARPRIBADI.
Definisi Komunikasi Antarpribadi
Tiga ancangan utama definisi komunikasi antar pribadi:
1. Definisi berdasarkan komponen (componential)
2. Definisi berdasarkan hubungan diadik (relational [dyadik])
3. Definisi berdasarkan pengembangan     (developmental)
1. Definisi berdasarkan komponen (componential)
Penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera (lihat komponen2 komunikasi)
2. Definisi berdasarkan hubungan dyadik (relational [dyadik])
Komunikasi yang berlangsung diantara 2 orang yang mempunyai hubungan yang mantap dan jelas. Mis : pramuniaga-pelanggan, orang tua-anak, wawancara 2 orang, dsb.
Hampir tidak mungkin k’si dydic bukan KAP bahkan orang asing yg menanyakan alamat termasuk kap
Diperluas sampai sekelompok kecil orang ( 3 atau 4 orang).
Ciri2 komunikasi dyadik:
a.    Peserta komunikasi berada dlm jarak yg dekat
b.    Peserta komunikasi mengirim dan menerima pesan secara simultan dan spontan (verbal, non
c.    verbal)
d.    Keberhasilan komunikasi menjadi tanggung  jawab para peserta komunikasi
e.    Kedekatan hubungan peserta komunikasi tercermin pd jenis – jenis pesan atau respon nonverbal
f.    mereka seperti sentuhan, tatapan yg ekspresif, dan jarak fisik yg dekat
g.    Komunikasi antarpribadi mungkin didominasi oleh satu pihak
3. Definisi berdasarkan pengembangan
Komunikasi antar pribadi dimulai dari komunikasi yang bersifat tak pribadi (impersonal) menjadi komunikasi pribadi atau intim (mrpk akhir k’si tak pribadi/impersonal)
Menurut Deddy Mulyana:
Komunikasi antar pribadi adalah komunikasi antara orang2x secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain scr langsung baik verbal maupun non verbal.
HAKIKAT KOMUNIKASI ANTARPRIBADI
Diantara semua pengetahuan & keterampilan yg dimiliki manusia komunikasi termasuk yg paling penting dan berguna.
Komunikasi intrapribadi :
 Anda berbicara dgn diri sendiri, mengenal diri sendiri, mengevaluasi diri sendiri, meyakinkan diri sendiri tentang ini dan itu, mempertimbangkan keputusan2x yg akan diambil, dan menyiapkan pesan2x yg akan Anda sampaikan kpd orang lain.
Misal: berpikir, melamun, dll.
Komunikasi antarpribadi :
Anda berinteraksi dgn orang lain, mengenal mereka dan diri Anda sendiri, dan mengungkapkan diri sendiri kpd orang lain.
Misal: dgn kenalan baru, kawan lama, kekasih, anggota keluarga, dll.
Komunikasi kelompok kecil & organisasi :
Anda berinteraksi dengan orang lain, memecahkan masalah, mengembangkan gagasan baru, dan berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Misal: Wawancara kerja, rapat dewan eksekutif, pertemuan minum kopi informasl s/d pertemuan formal yg membahas masalah2x internasional.
Komunikasi publik/terbuka :
 orang lain memberi anda informasi, dan membujuk anda, untuk membeli, berpikir dgn cara tertentu, untuk mengubah sikap, pendapat, atau nilai.
Komunikasi massa : Anda dihibur, diberi informasi, dibujuk oleh media (TV, radio, koran, dan buku). Melalui kebiasaan Anda membaca dan pola belanja anda, anda akan mempengaruhi bentuk dan format media.
CIRI – CIRI KOMUNIKASI ANTARPRIBADI
Menurut Deddy Mulyana :
1.    Anggota dlm proses komunikasi tatap muka
2.    Pembicaraan berlangsung scr terpotong2 karena peserta bebas berbicara, ini disebabkan kedudukannya relatif sama (tidak ada yg mendominasi pembicaraan/pembicara tunggal)
3.    Sumber dan penerima sulit dibedakan dan diidentifikasi, antar anggota saling mempengaruhi satu sama lain.
Ciri- ciri KAP menurut Judy. C. Pearson) :
1.    KAP bersifat transaksional
2.    KAP mencakup aspek isi pesan dan hubungan antar pribadi
3.    KAP dimulai dg diri pribadi (self)
4.    KAP mensyaratkan adanya kedekatan fisik antar pihak2 yg berkomunikasi
5.    KAP melibatkan pihak2 yg saling bergantung satu sama lain
6.    KAP tidak dapat diubah maupun diulang
TUJUAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI
1.Mengenal diri sendiri dan orang lain
KAP memberikan kita kesempatan untuk memperbincangkan diri kita sendiri, belajar bagaimana dan sejauhmana terbuka pd orang lain serta mengetahui nilai, sikap dan perilaku orang lain shg kita dpt menanggapi dan memprediksi tindakan orang lain.
2. Mengetahui dunia luar
KAP memungkinkan kita untuk memahami lingkungan kita baik objek, kejadian dan orang lain. Nilai, sikap keyakinan dan perilaku kita banyak dipengaruhi oleh KAP.
3.Menciptakan dan memelihara hubungan menjadi bermakna
KAP yg kita lakukan banyak bertujuan  untuk menciptakan dan memelihara  hubungan yg baik dg orang lain. Hubungan tsb membantu mengurangi kesepian dan ketegangan serta membuat kita lebih positif ttg diri kita sendiri.
4.Mengubah sikap dan perilaku
Banyak waktu yg kita pergunakan untuk mengubah/ mempersuasi orang lain melalui KAP
5.Bermain dan mencari hiburan, kejadian lucu mrpk kegiatan untuk memperoleh hiburan.
Hal ini bisa memberi suasana yg lepas dari keseriusan, ketegangan, kejenuhan, dsb.
6. Membantu orang lain
Psikiater, psikologi klinik dan ahli terapi adl contoh2 profesi yg menggunakan KAP untuk menolong orang lain. Memberikan nasihat dan saran kpd teman juga mrpk contoh tujuan proses KAP untuk membantu orang lain.
Komunikasi Interpersonal: Individu dan Lingkungan Sosial, Konflik, dan Karir
              Interaksi personal dengan lingkungan sosialnya (sosialisasi). Setiap orang mempunyai cara sendiri-sendiri dalam bersosialisasi, bergaul dan mengatasi masalah kehidupan mereka. Dalam hal bergaul dan berinteraksi dengan lingkungan sosial setiap orang punya cara-cara sendiri dan perilaku sendiri untuk menentukan pergaulan seperti apa yang membuat mereka merasa nyaman dan senang. Bahkan cara-cara yang mereka lakukan terkadang membuat orang merasa aneh dan tidak bisa memahaminya. Terkadang ada orang dengan mudah dan cepat bisa beradaptasi dengan orang- orang dan lingkungan baru yang membuat mereka cepat akrap dan bergaul dengan orang lain, tetapi ada juga orang yang susah dalam bergaul karena kurangnya rasa percaya diri dan keberanian. Orang yang cepat dan mudah dekat dengan orang lain biasanya merupakan orang yang mudah membuka diri dengan orang lain. Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang dengan mudah membuka diri dengan orang lain, diantaranya;
      Topik, melalui topik pembicaraan yang sesuai dan umum biasanya membuat seseorang tertarik untuk berkomunikasi dan dengan mudah mengungkapkan pendapat mereka. Hal ini yang menciptakan kedekatan seseorang dengan orang lain dan membuat kita merasa nyaman, kenyamanan itulah yang membuat orang dengan mudah membuka diri dengan orang lain.
     Budaya, kedekatan yang dimiliki seseorang juga berdasakan budaya dengan memiliki latar belakang budaya yang sama seseorang akan merasa dekat dan saling mengenal  satu sama lain karena merasa sebudaya,sesuku dan budaya merupakan bagian dari kehidupan manusia yang menjadi patokan mereka karena merasa saudara dan seperjuangan.
         Gender, perbedaan gender mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan dan penetuan sikap kita terhadap orang lain. Laki-laki dan perempuan mempunyai cara dan sudut pandang tersendiri dalam menentukan sikap. Laki- laki cenderung terbuka dengan orang lain yang mempunyai aktivitas yang sama dan hobi yang sama, sedangkan perempuan cenderung berbagi dengan orang lain mengenai apa yang saja yang dirasakan dan lebih mudah untuk membuka diri dengan orang lain.
           Seseorang mempunyai berbagai masalah dan hambatan yang membuat mereka susah bergaul dengan lingkungan sekitar karena tidak memiliki rasa percaya diri yang cukup, hal ini  merupakan masalah  komunikasi antar pribadi dimana seseorang tidak bisa merubah tindakan dan kurangnya keterampilan dalam menjalin komunikasi yang efektif, dalam kasus pertama saya akan memberikan solusi berdasarkan teori “The Self” yang ada pada komunikasi antar pribadi yang terdiri dari tiga aspek. Self concept yaitu bagaimana kamu melihat dirimu sendiri dari tiga sumber yang bisa penulis gunakan untuk mengetahui tentang dirinya. Untuk memperoleh self concept penulis bisa memperoleh dari orang lain, lingkungan sosial dan penulis bisa membandingkannya dan mengevaluasi. Sehingga hal ini membuat penulis tidak merasa tidak dapat bergaul dan penulis juga akan mengetahui kekurangan dan kelebihan dalam dirinya. Sehingga dari hal itu penulis mempunyai kesadaran akan dirinya karena penulis memiliki konsep diri yang membantu penulis mengidentifikasi dirinya.
            Self awareness yaitu, apa yang kamu ketahui mengenai apa yang ada pada dirimu. Dalam hal ini ada beberapa hal informasi mengenai dirimu yang kamu dan orang lain ketahui (open self) dalam open self  penulis dan orang lain mengetahui informasi mengenai dirinya yang bisa menjadi pembanding penulis untuk mengetahui hal-hal buruk atau baik yang ada pada dirinya. Kamu tau tetapi orang lain tidak tau (hidden self) ada beberapa hal atau informasi yang terkadang kita rahasiakan dan orang lain tidak mengetahuinnya karena kita merasa hal itu tidak perlu orang lain ketahui. Kamu tidak tau tetapi orang lain tau (blind self) tanpa kita sadari terkadang orang lain memperhatikan kita dan tanpa kita tau dia mengetahui apa yang ada pada diri kita tetapi kita tidak mengetahuinya biasanya hal seperti itu orang-orang terdekat penulislah yang mengetahui karena seringnya berinteraksi dan berkomunikasi dengan penulis. Kamu tau dan orang lain juga tidak mengetahuinya (unknown self) biasanya kasus yang seperti ini hanya seorang psikiater yang memahami dan mengetahuinya karena dibutuhkan perhatian kusus. Dari hal ini penulis diharapkan mengetahui apa saja yang ada pada dirinya yang bisa menjadi motivasi untuk membangun kepercayaan diri. Penulis juga bisa mengembangkan apa yang menjadi kelebihannya dan mengurangi hal-hal yang negatif sehingga penulis tidak perlu merasa tidak bisa mengembangkan dirinya. Hal ini juga bisa merubah sikap penulis secara perlahan-lahan untuk bisa menigkatkan rasa kepercaan diri penulis.
            Self esteem yaitu bagaimana kamu menempatkan dirimu, yaitu penulis mampu menempatkan dirinya di lingkungan sosial dalam kasus pertama penulis menjelaskan tidak memiliki kepercayaan diri hal ini disebabkan karena kurangnya motivasi dari orang-orang terdekat dan penulis diharapkan mencari orang –orang yang bisa dipercaya untuk memberikan afirmasi kepada penulis guna mengembangkan rasa percaya diri dan pengembangan diri yang penulis merasa tidak memilikinya. Sehingga penulis merasa mempunyai motivator untuk membangun kepercayaan diri guna mengembangkan diri penulis.
            Dari beberapa hal di atas kita bisa mengatasi masalah yang ada pada diri kita dan sebenarnya masalah yang ada itu ada pada diri kita sendiri yang terkadang kita tidak menyadari akan hal itu. Kita juga bisa mengatasinya dengan membuka diri dengan orang lain atau orang terdekat kita (self disclousure) yang orang itu mengetahui kebiasaan dan karakter kita, kita bisa mendapatkan solusi-solusi dari orang yang kita percaya akan pendapatnya baik buat kita, seperti masalah kurangnya rasa percaya diri yang dialami penulis dalam bergaul dan mengembangkan diri. Penulis bisa melakukan self disclousure dengan orang-orang terdekat yang diyakini bisa memberikan solusi untuk membangun kepercayaan diri penulis dengan begitu penulis bisa mendapatkan reward yang bisa menolong kita untuk mengatasi masalah-masalah yang kita hadapi. Dalam hal ini penulis memiliki rasa percaya diri yang kurang dan segala kecemasan yang timbul karena pola asuh keluarga menyebabkan timbulnya kesulitan untuk bergaul secara mendalam. Untuk lebih dekat dengan orang lain rasanya susah, setelah mengenal lebih jauh, lambat laun orang tersebut akan mendominasi, menyepelekan dan memanfaatkan. Penulis menyadari hal itu, tapi sulit untuk mengubahnya. Biasanya penulis akan menarik diri dan agresif mengonfrontasi secara langsung hanya pada orang-orang dekat. Hal ini yang menyebabkan penulis membatasi diri dan tidak punya sahabat atau menjalin hubungan pertemanan yang solid dan bermanfaat. Masalah yang dihadapi penulis dikarenakan adanya anggapan dan persepsi bahwa tidak semua orang itu baik dan mempunyai niat baik, hal ini dikarenakan kurangnya rasa kepercayaan yang ada pada diri penulis dan kecemasan yang berlebihan akan hal-hal yang membuat penulis merasa dirugikan yang dan menyebabkan ketakutan yang sangat besar sebelum melakukannya komunikasi dengan komunikator hal ini termasuk dalam (communication apprehension).
              Solusi-solusi yang saya berikan kepada penulis semuanya merupakan bagian- bagian dari komunikasi antar pribadi dimana mengacu pada perubahan dan tindakan yang berlangsung terus menerus. Dalam komunikasi antar pribadi seseorang dituntut trampil dalam mengembangkan kehidupan sosialnya dan mampu bergaul dengan lingkungan sekitar. dari kasus yang dihadapi penulis diharapkan penulis mampu mengubah perilaku penulis yang merasa cemas saat berinteraksi dengan orang lain dan penulis bisa melakukannya dengan dukungan dari orang- orang terdekat dengan membuka diri secara perlahan yang nantinya akan membuat penulis mampu mengurangi rasa kecemasan yang selama ini membuat penulis merasa tidak memiliki rasa percaya diri dan mengembangkan diri seperti orang lain. Dengan kepercayaan diri yang nantinya dimiliki penulis, penulis juga bisa mengembangkan dirinya dengan bekal kepercyaan diri dan bersikap terbuka dengan orang lain dalam hal ini dibutuhkan keterampilan untuk mengembankannya dalam kehidupan sehari-hari dan yang nantinya akan menjadi kebiasaan.
              Konflik interpersonal. Setiap orang pasti pernah mengalami konflik baik dengan teman, sahabat, pacar bahkan dengan keluarga. Konflik sudah menjadi bagian hubungan interpersonal dan tidak bisa dihindarkan dalam hubungan seseorang. Konflik interpersonal merupakan ketidaksesuaian antar individu yang saling berhubungan, masing-masing individu menginginkan sesuatu yang individu lain tidak inginkan. Adanya konflik tidak selalu merusak hubungan seseorang tergantung bagaimana konflik itu sendiri dikelola dan diselesaikan. Jika dikelola secara adil dan saling menghormati pendapat setiap orang hubungan kemungkinan akan makmur, jika dikelola dengan tidak adil, hubungan kemungkinan menjadi buruk.  Semua itu tergantung bagaimana seseorang itu menanggapi dan menyelesaikannya. Konflik sangat erat hubungannya dengan keadaan emosional seseorang dimana untuk mengontrol emosi dibutuhkan manajemen diri dalam berpikir dan bertindak.
Di dalam konflik interpersonal relationships terdapat strategi manajemen konflik  yaitu pemilihan strategi dalam menyelesaikan konflik diperlukan untuk mengelola konflik, strategi konflik dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, tujuan yang akan dicapai, keadaan emosi, penilaian kognitif dari situasi, kepribadian dan kompetensi komunikasi, sejarah keluarga. Manajement konflik digunakan agar konflik yang ada bisa diselesaikan dengan baik-baik tanpa ada yang dirugikan.
           Dari kasus yang ceritakan oleh penulis bahwa masalah bermula ketika kakak lelakinya berniat pergi ke luar pulau Jawa untuk menghindari hutangnya yang hampir setengah milyar rupiah. Penulis dan keluarganya baru mengetahui perihal hutang tersebut ketika kakaknya telah pergi bersama istri dan anaknya. Sebelum berangkat dengan dukungan mamanya sang kakak meminta uang dua puluh juta rupiah untuk mencicil hutangnya, namun penulis tak mempunyai uang dan yang dimilikinya hanyalah cincin kawin. Atas saran mama dan kakaknya mereka menyarankan penulis untuk menjual cincin kawinnya. Tentu saja hal ini tidak mungkin disetujui oleh suami manapun, tak terkecuali suami sang penulis. Sebenarnya jika dilihat, jasa sang kakak sangatlah besar mulai dari penulis berusia dini hingga sukses seperti sekarang ini. Secara kemapanan sebenarnya sang kakak lebih mapan daripada adiknya, namun karena tidak adanya persetujuan dari suami penulis tadi akibatnya mama dan kakaknya menjadi marah besar. Sumpah serapah pun diucapkan oleh sang mama hingga penulis diusir dari rumahnya dan semua yang telah diberikan oleh mama dan kakaknya selama ini dihitung sebagai hutang dan harus dia bayar. Kata maaf pun yang terucap tak dapat meredakan amarah sang mama dan justru mengusir penulis, bukan kata maaf seperti yang diharapkan oleh penulis. Kakaknya pun tak jauh beda, dia jadi memusuhi adiknya sendiri karena masalah ini. Setelah membaca kasus di atas, muncul pemikiran dalam bahwa sebenarnya masalah yang muncul dalam keluarga ini sebenarnya adalah masalah sangat sensitif dan sering muncul dalam sebuah keluarga, yaitu masalah ekonomi. Dari kasus yang diceritakan penulis saya menarik kesimpulan bahwa masalah yang mendasari adalah rasa kecewa dari mama dan kakak yang mengharapkan penulis mampu memenuhi keinginan mereka untuk menjual cincin kawinnya untuk membantu kakaknya. Disini posisi penulis sangatlah tidak enak bagai buah simalakama dimana penulis ingin membantu sang kakak tetapi tidak mungkin menjual cincin kawinnya tanpa persetujuan suami. Dalam menentukan keputusan penulis perlu meminta pendapat suami karena status penulis yang sudah berkeluarga yang tidak bisa menentukan keputusan sendiri. Disini terjadi kurangnya komunikasi yang baik antara penulis, kakak dan mama. Amarah yang diungkapkan sang ibu kepada penulis dengan mengusir dan mengucapkan sumpah serapah merupakna emosi sesaat dari mama karena rasa kecawa. Disini mama tidak bisa mengontrol emosinya dan mengakibatkan konflik yang sangat pelik dan hal ini biasanya akan berdampak buruk dan berkepanjangn jika tidak ada mediator dalam masalah ini. Meskipun kita semua mengetahui bahwa semarah-marahnya ibu dia tidak akan memangsa anaknya sendiri tetapi masalah ini harus cepat diselesaikan agar tidak berkepanjangan dan tidak ada yang dirugikan. Dalam kasus yang dihadapi penulis saya memberikan solusi yang memungkinkan kepada penulis yaitu, mengusulkan berbagai solusi, terutama mencari solusi yang memungkinkan masing-masing pihak untuk menang, untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.
                 Ketika dihadapkan dalam sebuah konflik sebagian orang lebih memilih menggunakan cara pemaksaan (force), yang dapat dilakukan secara fisik maupun emosi. Dari kasus ini pemaksaan yang dilakukan secara emosional. Untuk dapat mengatasi suatu pemaksaan (force) alternative yang dapat dilakukan adalah berbicara (talk). Kualitas berbicara yang terbuka antara kedua belah pihak, positif thinking dan rasa empati menjadi cara yang baik.
Di sini saya juga menyarankan agar penulis mencari orang yang sekiranya netral dan bisa sebagai mediator yang dihadapi penulis. Mediator disini diharapkan bisa menjadi listener yang baik bagi kedua belah pihak dan mediasi yang terjadi bisa berjalan dengan baik dan memperoleh dampak yang baik pula pada kedua belah pihak. Listening yang dilakukan mediator dimulai dari menerima pesan yang telah dikirimkan dari kedua belah pihak. Listening dimulai dari beberapa tahap yaitu: receiving (menerima), understending (memahami), rembering (mengingat), evaluating (mengevaluasi), responding (merespon). Tahapan dari listening ini harus saling berkelanjutan dalam satu waktu.
             Dalam tahap receiving yang ada pada listening diharapkan mediator mengerti permasalahan apa yang sebenarnya terjadi dan mengingat apa yang telah disampaikan kedua belah pihak kemudian mediator mengevaluasi apa yang telah dia terima. Dari tahap evaluasi ini mediator dapat merespon dan menentukan solusi yang diberikan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi penulis.
             Mediator yang digunakan dalam sebuah masalah yang dihadapi seseorang bisa menjadi alat bantu yang cukup ampuh karena dengan begitu penulis bisa mengetahui apa yang diinginkan oleh mama dan demikian sebaliknya melalui mediator yang menjadi jembatan komunikasi antara kedua belah pihak. Dalam melakukan tahap mediasi dibutuhkan kesabaran dari penulis karena tahap mediasi membutuhkan waktu yang cukup lama dan butuh kesabaran khusus untuk seorang mediator karena disaat kita menjadi mediator kita harus bersikap objektif dan netral. Dengan adanya mediasi dan bantuan mediator dalam kasus ini diharapkan konflik yang diatasi bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan tidak memutus hubungan silatuhrahmi antara ibu dan anak dan penulis dengan kakaknya. Komunikasi yang terjadi kedepan diharapkan lebih baik lagi.
              Dari kasus ketiga disini penulis menjelaskan mengenai hubungan penulis dengan sahabatnya yang terjalin sangat erat dan harus mengalami ujian karena masalah karier. Kebanyakan orang pasti memiliki sahabat dan menjalin persahabatan dengan orang lain yang dianggapnya nyaman ketika berkomunikasi, berdiskusi bahkan tempat mencurahkan isi hati. Persahabatan tidak memandang jenis kelamin dan umur, persahabatan itu sendiri dapat diartikan sebagai hubungan pribadi yang bermakna dan produktif diantara dua orang yang dicirikan dengan perilaku positif yang timbal balik. Di dalam persahabatan terdapat perbedaan dalam menjalankan persahabatannya. Laki-laki lebih senang melewati aktivitas bersama sedangkan perempuan cenderung lebih senang berbagi cerita dengan sahabatnya. Setiap orang mempunyai cara pandang yang berbeda-beda dalam mengartikan persahabatan dan mempuyai kriteria masing-masing dalam menentukan sahabat itu yang seperti apa. Sahabat bermula dari dua individu yang kemudian terjadi kedekatan yang semakin hari semakin intim (dekat) karena seringnya berkomunikasi, menjalankan aktivitas bersama, dan rasa nyaman. Ada beberapa tujuan seseorang menjalin persahabatan ada yang untuk memenuhi kebutuhan yaitu ada yang lebih suka memberi dari pada menerima dan ada yang lebih suka menerima dari pada memberi dalam menjalin persahatan. Untuk berbagi dalam artian untuk membagi atau sharing mengenai apa yang menjadi beban pikiran atau masalahnya ada pula yang untuk menemaninya menjalankan aktivitas atau hobinya.
Pada dasarnya persahabatan yang banyak dimiliki seseorang adalah saling memberi dan menerima tanpa adanya dominasi dari salah satu pihak karena terdapat keseimbangan dalam hubungan persahabatan. Dari kasus ini  kurangnya kesadaran akan berharganya sebuah persahabatan. Persahabatan yang sudah terjalin sekian lama antara penulis dan sahabatnya sekarang ini sedang berada dalam tahap depenetrasi, yaitu dimana penulis dan sahabatnya  saling menjauh karena beberapa alasan yang belum jelas diketahui oleh penulis. Seharusnya penulis dan sahabatnya menjalin komunikasi yang baik agar jelas kenapa sikap sahabatnya berubah kepadanya. Depenetrasi yang tejadi terus menerus akan menjadi disolusi yang berakibat persahabatan mereka sudah tidak bisa dipertahankan lagi.
            Dengan menjalin persahabatan selama bertahun-tahun seharusnya penulis dan sahabatnya mengenal dan mengetahui sifat masing-masing. Ego yang cukup besar sangat berpengaruh dalam masalah ini dimana tidak adanya keinginan dari salah satu pihak untuk keluar dari masalah ini dan tidak adanya niat untuk memperbaiki hubungan antara keduanya yang telah dibangun sekian lama.
            Dalam menjalin suatu hubungan memang terkadang kita butuh untuk menjaga jarak kepada orang-orang tertentu yang dirasa hubungan yang terjalin lebih banyak menimbulkan kerugian. Tetapi jika dalam menjalin suatu hubungan itu saling memberikan manfaat atau bahkan lebih sepatutnya hubungan itu dipertahankan. Dalam menjalin sebuah persahabatan pasti di dalamnya terdapat konflik yang terkadang mengakibatkan persahabatan itu terancam. Seperti kasus yang dihadai penulis dengan sahabatnya, persahabatan mereka terancam berakhir karena masalah persaingan dalam karier. Antara penulis dan sahabatnya dibutuhkan komunikasi yang baik dan berkualitas guna terjalin keterbukaan satu sama lain. Positif thinking dan empati antara penulis dan sahabatnya untuk mendapatkan solusi dari masalah yang sedang dihadapi. Bersikap legowo untuk menerima kritik dari orang lain dan tidak mementingkan ego masing-masing yang perlu dikendalikan karena jika seseorang yang sedang dihadapi masalah biasannya dia hanya menggunkan ego tanpa berpikir dampak kedepannya. Sikap saling memaafkan antara keduanya juga sangat menunjang. Jika dalam komunikasi yang terjalin tidak di dapat solusi guna mempertahankan hubungan persahabatan berarti hubungan persahabatan itu memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi karena tidak tercapainya kesepakatan antara kedua belah pihak meskipun begitu hubungan itu bisa beralih menjadi hubungan pertemanan kerja yang sehat dan bermanfaat.