Thursday, 20 November 2014

Komunikasi Psikologi tentang Jenis kelompok


  PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
            Berbicara mengenai manusia tentunya juga berbicara mengenai seluruh aspek yang ada pada manusia tersebut. Banyak sekali yang harus dikaji mengenai manusia. Manusia sebagia makhluk sosial tidaklah mungkin hidup tanpa adanya orang lain. Dalam situasi ini manusia harus berinteraksi satu sama lain untuk memenuhi kebutuhannya.
            Semua yang dibutuhkan manusia tidaklah mungkin diatasi secara individual karena manusia sebagai makhluk sosial maka mereka saling membutuhkan dan saling tergantung antara satu sama lain, dalam kaitannya dengan hal tersebut. Dalam sebuah masyarakat terdapat beberapa kelompok- kelompok sosial yang membuat interaksi mereka lancar dan tertur. kelompok sosial merupakan sistem yang bisa membantu masyarakat untuk mencapai tujuan mereka bersama dan di dalamnya ada norma-norma yang telah di sepakati barsama.   
            Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sherif bahwa kelompok sosial adalah suatu kesatuan sosial yang terdiri atas dua individu atau lebih yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga di antara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma-norma tertentu, yang khas bagi kesa Menurut Sherif kelompok sosial adalah suatu kesatuan sosial yang terdiri atas dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga diantara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma – norma tertentu, yang khas bagi kesatuan sosial tersebut .
            Menurut Jalaludin Rakhmat  kelompok  adalah Kesadaran pada anggota – anggota nya akan ikatan yang sama yang mempersatukan masing masing individu .
Menurut Park dan Burgess kelompok adalah sekumpulan orang yang memiliki kegiatan yang konsisten.
Menurut Clovis sheperd Kelompok adalah suatu mekanisme mendasar dari sosialisasi dan sumber utama tatanan sosial
Sedangkan menurut Gidding kelompok sosial timbul karena adanya consciousness of kind, kesadaran atas barang pada jiwa manusia.

Jadi kelompok – kelompok sosial tersebut adalah himpunan atau satu kesatuan manusia yang hidup bersama dan adanya hubungan
kesadaran diantara mereka. Hubungan tersebut antara lain menyangkut hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi dan suatu kesadaran untuk saling tolong – menolong serta adanya mekanisme dalam organisasi antara anggotanya.

B. JENIS – JENIS KELOMPOK
           
1. Kelompok Primer
            Dalam kelompok primer terdapat interaksi sosial yang intensif dan lebih erat antara anggotanya dari pada dalam kelompok sekunder. Kelompok primer juga disebut face to face group, yaitu kelompok sosial yang anggota-anggotanya sering berhadapan muka yang satu dengan yang lain dan saling mengenal dari dekat, dan karena itu saling hubungannya lebih erat.
            Peranan kelompok premer dalam kehidupan individu besar sekali karena dalam kelompok premer itu manusia pertama-tama berkembang dan dididik sebagai makhluk sosial. Disini ia memperoleh kerangkanya yang memungkinnya untuk mengembangkan sifat-sifat sosialnya, antara lain mengindahkan norma-noram, melepaskan kepentingan dirinya demi kepentingan kelompok sosialnya, belajar bekerja sama dengan individu-individu lainny, dan mengembangkan kecakapannya guna kepentingan kelompok. Saling hubungan yang baik di dalam kelompok primer itu menjamin perkembangannya yang wajar sebagai manusia sosial. Contoh-contoh kelompok primer adalah keluarga, rukun tetangga, kelompok sepermainan sekolah, kelompok belajar, kelompok agama dan sebagainya. Sifat interaksi dalam kelompok-kelompok primer ini bercorak kekeluargaan, dan lebih berdasarkan simpatik .

2. Kelompok Sekunder
            Interaksi dalam kelompok sekunder terdiri atas saling hubungan yang tidak langsung, berjauhan dan formal, kuarng bersifat kekeluargaan. hubungan-hubungan dalam kelompok sekunder biasanya lebih objektif.
            Peranan atau fungsi kelompok sekunder dalam kehidupan manusia ailah untuk mencapai tujuan tertentu dalam masyarakat dengan bersama, secara objektifdan rasional.
Perbandingan antara pergaulan antara kelompok primer dan sekunder dapat digambarkan dengan perkataan Tonnies, seorang ahli ilmu kemasyarakatan, yaitu bahwa kelompok primer bersifar Gemeinschaft, artinya merupak suatu persekutuan hidung yang hubun
gannya satu sama lain erat sekali. Sering juga disebut hubungan atau kekeluargaan, dan masing-masing individu ingin bantum membantu secara sukarela. Sedangkan kelompok sekunder bersifat Gesselschaft, artinya suatu kesatuan sosial yang hubungannya satusama lain berdasarkan pamrih, selalu memperhitungkan rugi-laba . Contoh-contoh kelompok sekunder ialah partai politik, perhimpunan serikat kerja dan sebagainya.

3. Kelompok Formal dan Informal
            Terdapat pula pembagian kelompok sosial ke dalam kelompok formal atau resmi dan kelompok informal atau kelompok tidak resmi.
            Inti perbedaan disini ialah bahwa kelompok informal itu tidak berstatus resmi dan tidak didukung oleh peraturan-peraturan ADRT tertulis seperti pada kelompok formal. Kelompok informal juga mempunyai pembagian tugas, peranan-peranan dan hirarki tertentu, serta norma pedoman prilaku anggotanya dan konvensinya, tetapi hal ini tidak dirumuskan secara tegas dan tertulis seperti pada kelompok formal.
            Ciri-ciri interaksi kelompok tak resmi lebih mirip pada ciri-ciri kelompok primer dan bersifat kekluarga dengan corak simpati, sedangkan ciri-ciri kelompok resmi mirip pada ciri-ciri interaksi kelompok sekunder, bercorak pertimbangan pertimbangan rasional objektif. Contohnya: semua perkumpulan yang beranggapan dasar dan beranggapan rumah tangga merupakan kelompok resmi.
            Dalam suatu kelompok resmi terbentuk kelompok informal yang terdiri dari beberapa orang atau beberapa keluarga saja, yang mempunyai pengalaman bersama, dan sifat interaksinya berdasarkan saling mengerti yang mendalam karena pengalaman-pengalaman dan pandangan- pandangan bersama. Pembentukan kelompok informal itu tentu juga terdapat di luar kelompok-kelompok resmi yang besar, seringdibentuk di tengah kehidupan sehari-hari, lingkungan kerja, tempat kediaman yang dekat. Contoh: sekelompok kawan-kawan atau keluarga yang sering kunjung mengunjungi. Seperti yang dikatakan tadi, kelompok informal itu mempunyai sifat-sifat interaksi yang mirip dengan interaksi kelompok primer yang erat dan berdekatan berdasarkan saling mengerti.
4. Hubungan in-group dan out-group
            Di dalam in-group dimana individu termasuk di dalamnya, maka sering mengadakan penyesuain diri dengan kelompok. Misalnya “itu partai saya, golongan saya dan sebaginya”. Jadi adanya unsur mendukung norma yangtermasuk di dalamnya di sebut in-group.
Dalam out-group, individu terasa pada lingkungan kelompok tertentu. Ia merasa bahwa ia tidak tergolong di dalamnya. Sebernarnya persoalan tentang in-group dan out-group ini bukan merupak persoalan penting selama tidak terjadi perasingan .
            Contoh: in-group misalanya, sekelumit orang yang dalam peperangan telah menjalankan tugas yang sukar dan telah mengalami pahit getirnya sama-sama, mempunyai cara-cara senda gurau yang khusus dan ditujukan kepada kawan-kawan sepengalaman. Apabila mereka sedang bersanda gurau, lalu ada orang luar yang turut tertawa dengan mereka, maka kawan-kawaan ini dengan tiba-tiba diam dan mengatakan apa-apa, lalu pergi dari tempat itu karena adanya seorang out-group yang ingin turut serta dengan mereka.
            Sikap perasaan in-group itu seakan-akan hanyalah mengizinkan kawan-kawan in-group itu saja untuk turut serta dengan kegiatan yang mereka lakukan. Out-group tidak diperkenankan turut serta seakan-akan orang luar harus membuktikan terlebih dahulu bahwa mereka mau solider dengan in-group. Mau berkorban bersama dengan sekawanan in-group demi kemajuan bersama. Mereka harus membuktikan bahwa mereka mau dan dapat memikul pahit getirnya bersama barulah mereka boleh ikut serta dengan kegiatan in-group itu.

C.) PENDEKATAN KONSEP :

-  BERBAGAI PENDEKATAN DALAM PSIKOLOGI

            Setiap perilaku atau aktivitas seorang manusia, dapat dijelaskan dari berbagai dimensi pendekatan. Sebagai misalnya, kegiatan seseorang yang ketika menyebrang jalan. Aktivitas ini dapat dijelaskan sebagai aktivitas fisik yang dipicu oleh saraf yang merangsang otot kaki sehingga orang tersebut berjalan untuk menyebrang. Aksi ini juga dapat dijelaskan tanpa melibatkan aktivitas fisik, dimana aktivitas ini berjalan dimulai ketika ia menerima rangsangan lampu hijau yang menandakan dia boleh menyebrang.
            Begitu pula dengan cara menjelaskan psikologi, dapat dibahas dari berbagai pendekatan yang berbeda. Pada kesempatan ini akan diuraikan lima pendekatan berdasrkan Konsep Psikologi Modern. Kelima pendekatan ini tidak mutually exlusive; namun kelimanya fokus pada aspek tertentu yang berbeda sebagai reaksi terhadap suatu masalah yang dihadapinya.Pada studi psikologi, tidak ada pendekatan yang benar atau salah. Kelima pendekatan psikologi tersebut adalah :

a). PENDEKATAN BIOLOGISARAF
            Otak manusia yang terdiri dari + 12 milyard sel saraf dengan jumlah interkoneksi yang tidak terhitung, mungkin merupakan struktur paling rumit yang ada di dunia ini. Pada prinsipnya, setiap kejadian yang dilakukan / dialami seseorang, merupakan penjabaran aktivitas otak beserta sistem sarafnya. Dengan demikian, kita dapat memahami aspek perilaku seseorang, berdasarkan pemahaman tentang proses kerja antara otak dengan sistem sarafnya. Sebagai contoh, proses belajar dapat dijelaskan dari perspektif biologisaraf sebagai proses perubahan pengetahuan yang disimpan pada suatu sistem baru hasil pembelajaran. Begitu pula, persepsi dapat dipelajari sebagai aktivitas pencatatan pada sel saraf otak ketika mata menangkap dan memproyeksikan suatu informasi ke otak.
            Penemuan baru sangat meyakinkan bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara aktivitas-aktivitas otak dengan perilaku dan pengalaman. Reaksi emosional, misalnya rasa cemas, dapat ditimbulkan pada seekor bintang dengan memberikan suatu rangsangan elektris pada area spesifik disekitar otak bagian dalam. Rangsangan elektris dapat menimbulkan sensasi tentang hal-hal yang menyenangkan atau sebaliknya menyedihkan, walaupun pada dasarnya kita memiliki memori yang baik di masa lalu.
            Perkembangan pendekatan ini mengalami hambatan karena keterbatasan kita untuk memahami otak manusia yang sangat kompleks. Untuk itu, pendekatan lain jauh lebih cepat berkembang.

b). PENDEKATAN PERILAKU
            Seseorang yang makan pagi, naik sepeda, tertawa, bicara, menangis, merupakan bentuk-bentuk perilaku manusia sehari-hari, dimana proses kejadiannya (aktivitasnya) dapat diobservasi. Pendekatan perilaku ini mulai dikembangkan oleh psikolog Amerika – John B. Watson awal 1990-an. Sebelumnya, psikologi didefinisikan sebagai studi mental, dimana data-datanya diperoleh sebagai hasil observasi sendiri (self observation) yang direkam dalam form introspeksi.
            Introspeksi merupakan catatan individual melalui observasi dan pencatatan yang teliti tentang persepsi dan perasaan seseorang pada suatu periode tertentu. Introspeksi merupakan suatu pendekatan yang hanya dapat menghasilkan gambaran secara individual/bersifat privat, tidak dapat digeneralisir.
            Watson menyatakan bahwa introspeksi merupakan pendekatan yang sia-sia. Ia harus bisa diobservasi dan dapat diukur. Hanya anda yang dapat mengintrospeksi persepsi dan perasaan anda, namun orang lain hanya dapat mengobservasi perilaku anda. Watson mengatakan bahwa hanya dengan pendekatan observasi, kita dapat mengenal perilaku seseorang sebagai ilmu psikologi yang objektif.
            Perkembangan lain dari pendekatan perilaku, adalah Stimulus-Response (SR) Psikologi, yang dikembangkan oleh BF Skinner (Psikolog Harvard), yang lebih konsentrasi pada apa yang menjadi input (rangsangan) dan apa outputnya (respon), sehingga sering disebut pendekatan black-box (tidak memperhatikan bagaimana proses di dalam organisasinya). Dari pendekatan ini, sebagai contoh, berkembang pendekatan reward and punishment – yang dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran bagi manusia dengan cepat serta meminimasi kesalahan.

c). PENDEKATAN KOGNITIF
            Ahli Psikologi Kognitif berargumentasi bahwa manusia bukan merupakan respetor suatu rangsangan yang pasif namun setiap rangsangan akan diproses secara aktif, dimana infomasi akan diterima (melalui penglihatan, pendengaran atau ingatan) dan ditransformasikan dalam bentuk dan katagori baru di dalam otak, untuk kemudian digunakan sebagai dasar untuk melakukan aktivitas (berbicara, membaca, atau belajar).
            Kognitif merupakan proses mental dari persepsi, memori dan proses pengolahan informasi, sehingga seseorang dapat memiliki pengetahuan baru, memecahkan masalah, atau menyusun rencana untuk masa depan. Psikologi kognitif merupakan studi saintifik tentang kognisi – tujuannya untuk mengembangkan teori yang dapat menjelaskan bagaimana berorganisasi dan berfungsinya proses mental – proses menerima, memilih, menggunakan stimulus (informasi) untuk digunakan sebagai dasar bertindak, membuat keputusan atau membuat rencana (dekat dengan pendekatan SR Psikologi dan berbeda dari pendekatan Biologi saraf). ”Mental model of reality” merupakan cikal-bakal Psikologi Kognitif.
            Kenneth Craik, seorang psikologi Inggris dan sebagai seorang pionir psikologi kognitif, menyatakan bahwa otak manusia seperti komputer yang memiliki kemampuan untuk modeling atau bekerja paralel. Pendekatan Psikolog Kognitif analog dengan kerja komputer (sistem pengolah informasi) – dimana infomasi yang masuk diproses dengan berbagai cara: dipilih, diambil, dan dibandingkan dengan informasi lain yang dimiliki dalam memori, ditansformasi, disusun, dan sebaainya. Respon hasil tergantung pada proses internal dan kondisi sesaat.

d). PENDEKATAN PSIKOANALITIK
            Konsep psikoanalitik tentang perilaku manusia dikembangkan oleh Sigmund Freud dari Eropa, bersamaan dengan lahirnya pendekatan perilaku dari AS. Aliran ini berkembang berdasarkan suatu konsep bahwa perilaku manusia pada dasarnya merupakan suatu unjuk laku yang muncul akibat proses di bawah sadar. Dengan proses di bawah sadar tersebut, berarti cara berpikir, rasa takut atau keinginan seseorang akan muncul secara tidak sadar, dan berpengaruh pada perilaku. Freud percaya bahwa impulse-impulse bawah sadar seseorang terbentuk karena dorongan atau sebaliknya akan mati karena perlakuan-perlakuan yang diterima seseorang dari lingkungannya (keluarga atau masyarakat sekitarnya) sejak masa kecil. Impulse-impulse tersebut biasanya muncul pada saat mimpi, kesalahan-kesalahan saat bicara, atau gejala-gejala sakit mental.
            Teori Freud ini menunjukkan bahwa pada dasarnya manusia itu bukan mahkluk rasional. Freud menilai kehidupan manusia dari sisi negatif – manusia memiliki instink dasar sama dengan hewan (perilaku manusia berdasrkan pada kebutuhan dasar sex dan bersifat agresif) dan selalu bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan sosial (sebagai pengendali instink dasar manusia). Mengingat manusia itu memiliki instink dasar seperti hewan, maka Freud merasa pesimis bahwa manusia akan mampu hidup bersama secara damai.

e). PENDEKATAN PHENOMENOLOGI
            Pendekatan phenomenologi fokus pada pengalaman subjektif – dimulai dengan pemahaman seseorang tentang dunia, kemudian secara personal ia melakukan suatu aktiftas berdasarkan interpretasi tentang kejadian-kejadian yang ia lihat. Aktifitas seseorang merupakan hasil interpretasi atas pemahaman tentang suatu kejadian atau fenomena yang diinterasiksikan dengan pengalaman yang ia miliki (walaupun tanpa teori).
Konsep Psikologi phenomenologikal dimulai dengan mempelajari karakter alami manusia dalam menginterpretasikan dirinya dan dunianya, yang dapat dipelajari melalui observasi setiap aktifitasnya. Dua orang manusia akan menunjukkan reaksi yang berbeda terhadap suatu perlakuan/situasi yang sama; dengan bertanya bagaimana interpretasi masing-masing terhadap situasi yang mereka hadapi, kita akan memahami perilakunya.
            Pendekatan phenomenologikal cenderung menolak konsep bahwa perilaku seseorang dikendalikan oleh bawah sadar (teori Psikoanalitik), atau merupakan reaksi terhadap faktor-faktor luar (teori perlilaku). Mereka percaya bahwa perilaku seseorang bukan merupakan reaksi atas kekuatan-kekuatan luar yang terkendali, namun merupakan suatu aktualisasi diri sebagai seorang aktor yang mampu melawan takdir. Konsep ini berawal dari keyakinan bahwa setiap manusia mampu membangun jalan hidupnya masing-masing, karena kita memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan tujuan hidup, sehingga kita dapat menyusun rencana untuk memilih jalan hidupnya. Ini merupakan isu antara free will versus determinism. Idea phenomenologikal ini sejalan dengan pemikiran-pemikiran Kiergegaard, Sartre dan Camus.
            Teori phenomenologi juga sering disebut humanistik, karena pendekatan ini membedakan secara tegas antara manusia dengan binatang – khususnya sehubungan dengan konsep kebebasan untuk menemukan aktualisasi diri. Sehubungan dengan teori humanistik ini, dikembangkan teori-teori motivasi untuk menumbuhkan dan membangun aktualisasi diri seseorang. Semua dari kita pada dasarnya menuntut kebutuhan dasar untuk mengembangkan potensi (kompetensi) untuk berkarya menghasilkan sesuatu melebihi apa yang secara normal dapat kita perkirakan.

f). APLIKASI DARI PENDEKATAN-PENDEKATAN TERSEBUT
            Setiap aspek psikologi, pada dasarnya dapat dibahas dari berbagai dimensi pendekatan di atas. Sebagai contoh, dalam studi tentang agresi, psikologi fisiologikal akan tertarik dengan mempelajari mekanisme otak yang akan mempengaruhi perilaku seseorang. Untuk itu, banyak eksperimen untuk memahami agresi seekor binatang dengan memberikan stimulasi elektrikal atau kimia pada area tertentu dari otaknya. Psikologi perilaku, akan tertarik untuk mempelajari jenis-jenis pengalaman belajar seseorang, sehingga kita dapat memahami mengapa ia lebih agresif dibandingkan dengan lainnya ketika memperoleh suatu perlakuan. Lebih jauh, kita dapat meneliti faktor-faktor yang berpengaruh pada perilaku seseorang. Psikologi kognitif lebih fokus untuk memahami bagaimana seseorang memiliki kesan atas suatu kejadian di dalam pikirannya dan bagaimana representasi mentalnya dapat dimodifikasi karena adanya informasi baru. Psikologi humanistik akan fokus untuk memahami aspek-aspek situasi kehidupan individual dalam menyalurkan sifat agresifitasnya menjadi progres untuk menumbuhkan aktualisasi diri.
            Setiap pendekatan akan memberikan solusi yang berbeda dalam merubah perilaku seseorang. Sebagai contoh, psikolog fisiologi akan menganjurkan obat atau operasi untuk mengendalikan agresifitas seseorang. Pendekatan perilaku akan menganjurkan untuk memodifikasi kondisi lingkungan kerja untuk mendorong terbentuknya pengalaman belajar baru, misalnya dengan memberikan penghargaan pada perilaku nonaagesif. Psikolog kognitif akan menganjurkan pendekatan seperti pendekatan perilaku, walaupun ia akan lebih fokus pada proses mental aindividual dan proses pengolahan keputusan seseorang khususnya pada situasi yang kompleks (emosional). Psikoanalis akan konsentrasi untuk memahami latar belakang suburnya bawah sadar seseorang yang mendorong rasa kebencian untuk kemudian mencoba menemukan saluran perilakunya yang dapat diterima masyarakat. Sedangkan psikolog humanistik akan berusaha menolong manusia untuk dapat menampilkan perasaannya (feelings) serta membantu agar dia dapat memperbaiki kemampuan interpersonal. Garis besar tujuan aliran psikolog humanistik adalah melakukan rekayasa aspek-aspek sosial untuk mendorong semangat kompetisi dan agresi seseorang dibandingkan semangat kooperasinya.


D.) ANALISIS JENIS KELOMPOK DARI SEGI PSIKOLOGIS

1. Terdapat motif-motif yang sama
            Terbentuknya kelompok sosial itu adalah ialah karena bakal anggotanya berkumpul untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang dengan kegiatan bersama lebih mudah dan dan dapat di capai dari pada atas usaha sendiri. Jadi, dorongan atau motif bersama itu menjadi pengikat dan sebat utama terbentuknya kelompok sosial. Tanpa motif yang sama antara sejumlah individu itu sukar sukar untuk terbentuk suatu kelompok sosial.
            Tetapi tidak hanya motif yang sam itu saja yang dapat mengikat dan membentuk sejumlah orang menjadi suatu kelompok sosial, sebab adanya suatu motif yangg sama itu harus disertakan kesadaran bahwa tujuan-tujuan tersebut haruslah dicapai dengan kerja sama anatara orang-orang yang bermotif sama. Apabila tidak adanya kesadaran tersebut, maka tujuan yang sama itu akan dikejar sendir-sendiri. Hal tersebut akan menimbulkan suatu percekcokan dan terpecahnya kelompok.
            Tujuan-tujuan bersama yang diusahakan oelh kelompok sosial bermacam-macam jenisnya, misalnya keuntungan ekonomis seperti upada usaha koperasi dalam memberi barang konsumsi bersama. Dapat pula tujuan bersama itu berupa tujuan politik, tujuan ilmiah, dan lainnya.
            Setelah suatu kelompok terbentuk, biasanya lambat laun timbul pula motif-motif baru kelompok serta tujuan-tujuan tambahan yang semuanya dapat memperkokoh kehidupan kelompok itu. Hal ini dpat kita amati, misalnya, pada kelompok mahasiswa dari sebuah fakultas yang baru didirikan. Mahasiswanya lalu membentuk kelompok sosial terdorong oleh tujuan bersama, yaitu untuk bekerjasama dalam menyelesaikan persoalan-persoalan dalam menuntut pelajarannya. Titik berat dalam usaha bersama mereka itu pada mulanya ialah untuk mengatasi kesulitan-kesulitan dalam hal belajar di fakultas tersebut, misalnya mengusahakan buku-buku dan diklat-diklat bersama. Tetapi, sesudah satu atau dua tahun berdirinya fakultas, timbullah tujuan-tujuan tambahan, yaitu merayakan dies natalis secara meriah, mengadakan pawai-pawai, dan lain-lain, yang sebenarnya bukan lagi kegiatan-kegiatan khusus dari kelompok belajar yang bertujuan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan belajar itu.
            Timbulnya motif-motif baru kerap kali terjadi dalam kehidupan kelompok dan mempunyai peranan yang khusus, yakni untuk memperoleh interaksi antara anggota kelompok serta memperkuat kehidupan kelompok pada umumnya.
            Pengaruh kehidupan kelompok yang makin kokoh terhadap kegiatan individu anggotanya ialah, bahwa pada mereka akan timbul suatu sense of belongingness, yang ternyata mempunyai arti yang cukup mendalam pada kehidupan individu. Sense of belongingness itu merupakan peranan sikap bahwa ia termasuk dalam suatu kelompok sosial, di dalamnya ia mempunyai peranan tugas sehingga ia pun merasa semacam kepuasan dirinya bahwa ia berharga sebagai anggota kelompok tersebut. Kepuasannya ialah bahwa, ia sebagai makhluk sosial di dalam kelompoknya telah memperoleh peranan sosial yang juga berdasarkan usaha-usahanya untuk menyumbangkan sesuatu demi kepentingan kelompoknya.
            Maka dari paparan di atas dapat diringkas sebagai berikut. Terbentuknya kelompok sosial bergantung kepada adanya tujuan atau motif bersama dan keinsafan akan perlunya kerjasama untuk mencapai tujuan itu. Dalam perkembangan kelompok sosial, selain motif utama timbul pula moti-motif dan tujuan-tujuan tambahan yang mempunyai peranan berupa memperkokoh kehidupan kelompoknya. Apabila kehidupan kelompok bertamabah kokoh, maka timbullah rasa sense of belongingnes pada diri anggota-anggotanya, yang makin mendalam pula apabila anggota itu bertamabah solider dalam sikap dan usahanya dengan kehidupan kelompok.

2. Terdapat reaksi-reaksi dan kecakapan yang berlainan antar anggota kelompok.

            Dalam menguraikan pasal ini oleh Sherif dan kawan-kawan ditandaskan bahwa situasi sosial, baik situasi kebersamaan maupun situasi kelompok, pada dirinya sendiri sudah mempunyai pengaruh berlainan terhadap tingkah laku individu dibandingkan dengan kebiasaan tingkah laku individu itu dalam keadaan sendiri. Dalam hal itu tampak betapa mudahnya berlangsungnya imitasi dan sugesti pada umumnya dalam situasi tersebut.  Demikian pula dalam terbentuknya kelompok sosial yang beralih dari suatu kebersamaan.
Dengan demikian situasi sosial itu dapat merangsang reaksi-reaksi berlainan dari individu-individu yang bakal menjadi anggota kelompok. Dari berlainan kecakapan-kecakapan atas dasar perbedaan-perbedaan dalam kemampuan-kemampuan antar anggoata kelompok yang dirangsang oleh situasi sosial itu, maka terjadilah pembagian tugas yang khas antara anggota-anggotanya sesuai dengan kecakapannya untuk turut merealisasikan tujuan kelompok secara kerja sama. Demikianlah lambat-laun terjadi struktur kelompok yang khas serta norma-norma dan pedoman-pedoman pelaksanaan kegiatan kelompok serta makin menegas berdasarkan reakasi-reaksi dan kecakapan yang berlainan.



C.) ANALISIS JENIS KELOMPOK DARI SEGI KOMUNIKASI :


Bila Di analisis lagi dari segi komunikasi bahwa dari definisi Michael Burgoon dan Michael Ruffner dalam bukunya Human Communiation, A Revisian of Approaching Speech/Comumunication, memberi batasan komunikasi kelompok sebagai interaksi tatap muka dari tiga atau lebih individu guna memperoleh maksud atau tujuan yang dikehendaki seperti berbagai informasi, pemeliharaan diri atau pemecahan masalah sehingga semua anggota kelompok dapat menumbuhkan karateristik pribadi anggota lainnya dengan akurat (the face-to-face interaction of three or more individuals, for a recognized purpose such as information sharing, self-maintenance, or problem solving, such that the members are able to recall personal characteristics of other members accurately).

Ada empat elemen yang tercakup dalam definisi di atas, yaitu :
1. interaksi tatap muka, jumlah partisipan yang terlibat dalam interaksi, maksud atau tujuan yang dikehendaki dan kemampuan anggota untuk dapat menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya. Kita mencoba membahaas keempat elemen dari batasan tersebut dengan lebih rinci.

2. Terminologi tatap muka (face-toface) mengandung makna bahwa setiap anggota kelompok harus dapat melihat dan mendengar anggota lainnya dan juga harus dapat mengatur umpan balik secara verbal maupun nonverbal dari setiap anggotanya. Batasan ini tidak berlaku atau meniadakan kumpulan individu yang sedang melihat proses pembangunan gedung/bangunan baru. Dengan demikian, makna tatap muka tersebut berkait erat dengan adanya interaksi di antara semua anggota kelompok. Jumlah partisipan dalam komunikasi kelompok berkisar antara 3 sampai 20 orang. Pertimbangannya, jika jumlah partisipan melebihi 20 orang, kurang memungkinkan berlangsungnya suatu interaksi di mana setiap anggota kelompok mampu melihat dan mendengar anggota lainnya. Dan karenannya kurang tepat untuk dikatakan sebagai komunikasi kelompok.

3. Maksud atau tujuan yang dikehendaki sebagai elemen ketiga dari definisi di atas, bermakna bahwa maksud atau tujuan tersebut akan memberikan beberapa tipe identitas kelompok. Kalau tujuan kelompok tersebut adalah berbagi informasi, maka komunikasi yang dilakukan dimaksudkan untuk menanamkan pengetahun (to impart knowledge). Sementara kelompok yang memiliki tujuan pemeliharaan diri (self-maintenance), biasanya memusatkan perhatiannya pada anggota kelompok atau struktur dari kelompok itu sendiri. Tindak komunikasi yang dihasilkan adalah kepuasan kebutuhan pribadi, kepuasan kebutuhan kolektif/kelompok bahkan kelangsungan hidup dari kelompok itu sendiri. Dan apabila tujuan kelompok adalah upaya pemecahan masalah, maka kelompok tersebut biasanya melibatkan beberapa tipe pembuatan keputusan untuk mengurangi kesulitan-kesulitan yang dihadapi.

4. Elemen terakhir adalah kemampuan anggota kelompok untuk menumbuhkan karateristik personal anggota lainnya secara akurat. Ini mengandung arti bahwa setiap anggota kelompok secara tidak langsung berhubungan dengan satu sama lain dan maksud/tujuan kelompok telah terdefinisikan dengan jelas, di samping itu identifikasi setiap anggota dengan kelompoknya relatif stabil dan permanen.
Batasan lain mengenai komunikasi kelompok dikemukakan oleh Ronald Adler dan George Rodman dalam bukunya Understanding Human Communication. Mereka mengatakan bahwa kelompok atau group merupakan sekumpulan kecil orang yang saling berinteraksi, biasanya tatap muka dalam waktu yang lama guna mencapai tujuan tertentu (a small collection of people who interct with each other, usually face to face, over time order to reach goals).

BAB II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari semua uraian tentang pembahasan kelompok di atas dapat kita simpulkan sebagai berikut. Kelompok mempunyai jenis-jenis yaitu sebagai berikut:
a. Kelompok Primer
b. Kelompok Sekunder
c. Kelompok Formal dan Informal
d. Kelompok In-Group dan out-Group
Selain itu kelompok mempunyai ciri-ciri yang khas. Dari ciri-ciri kita dapat membedakan mana yang termasuk kelompok di dalam kehidupan kita, ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a. Adanya suatu Motif atau tujuan bersama di dalam komunitas tersebut
b. Adanya reaksi atau kecakapan yang berlainan di dalam suatu kelompok tersebut, artinya dalam kelompok tersebut setiap anggotanya pasti mempunyai kreatifitas yang berbeda
c. Penegasan struktur kelompok. Artinya di dalam kelompok itu ada pembagian tugas sesuai dengan kemampuan atau keahlian para anggotanya dan tugas ketua harus dikerjakan oleh ketua kelompok, tidak boleh tugas ketua kelompok di kerjakan oleh sekertaris dan sebaliknya.
d. Terdapat penegasan norma-norma kelompok. Maksudnya ada aturan yang harus ditaati di dalam suatu kelompok tersebut. Norma itu bertujuan untuk mendukung tercapainya tujuan kelompok, dan norma dibuat berdasarkan kesadaran serta kesepakatan bersama.




Refrensi :
- Ahmadi, Abu. Psikologi Sosia, edisi revisil. Jakarta: Rineka Cipta, 2007
- Gerungan, W.A. psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama, 2002
- A. Goldberg, Alvin, Carl E. Larson. Komunikasi Kelompok. Jakarta: UI-Press, 1985
- Tohirin. Bimbingan Konseling di Sekolah dan Madarasa. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2009
- Rakhmat,Jalaludin. Psikologi Komunikasi , edisi revisi , Bandung : Remadja Karya 1998

No comments:

Post a Comment